Tanggapan Mantan Mendag Terhadap Kritik Kebakaran Hutan dan Isu Konfrontasi dengan Singapura

Mantan anggota DPR Singapura, Calvin Cheng, memberikan tanggapan tegas terhadap kritik yang dilontarkan oleh mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi, mengenai sikap pemerintah Singapura terkait permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam sebuah unggahan di akun X miliknya, Cheng menunjukkan keyakinan tinggi dengan mengangkat kembali sejarah konfrontasi antara Singapura dan Indonesia ketika Singapura masih menjadi bagian dari Malaysia.
“Kami tidak akan terintimidasi. Jika Malaysia dan Singapura mundur, kami juga akan menyerah saat menghadapi konfrontasi (Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada era Orde Lama). Namun, kami tidak akan menyerah sekarang,” tulis Cheng dalam akun X-nya yang dikutip pada Selasa, 20 Oktober 2026.
“Alih-alih menulis surat atau mengirimkan peringatan, lebih baik lakukan penyelidikan di kantor-kantor mereka sesuai dengan hukum yang berlaku di Singapura,” tambahnya.
Sebelumnya, Muhammad Lutfi, mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, memberikan kritik pedas kepada Singapura terkait isu kebakaran hutan dan juga pasar modal. Lutfi memaparkan data mencengangkan dari laporan Greenpeace yang dirilis pada Oktober 2026.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa empat dari tujuh perusahaan yang terlibat dalam pembakaran hutan terdaftar secara langsung di Bursa Singapura (SGX) dan berlokasi di Singapura. Lutfi juga menunjukkan bahwa model bisnis “kantor keluarga” (family office) di Singapura dianggap sebagai sarana untuk menghindari pajak bagi perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan.
“Mereka mendirikan perusahaan induk dan kantor keluarga di Singapura, serta mendaftarkan grup terbesar mereka di Bursa Singapura. Tujuannya adalah penghindaran pajak. Mereka menjual komoditas mentah dari Indonesia ke perusahaan perdagangan mereka sendiri di Singapura untuk memindahkan keuntungan ke luar negeri, dengan merancangnya menjadi lebih efisien secara pajak, membayar pajak penghasilan serendah mungkin di Indonesia, sembari menyimpan kekayaan mereka di Singapura,” tegas Lutfi.
Lebih lanjut, Lutfi menantang pemerintah Singapura untuk menunjukkan komitmen mereka dalam penegakan hukum yang selama ini menjadi klaim mereka. Ia mendesak Singapura untuk berhenti berpura-pura di hadapan publik.
Kritik yang dilontarkan oleh Lutfi mencerminkan ketidaksenangan yang mendalam terhadap apa yang dianggapnya sebagai ketidakadilan dalam penanganan isu lingkungan hidup. Isu kebakaran hutan yang sering kali melibatkan perusahaan-perusahaan besar menjadi sorotan utama, dan perhatian publik semakin meningkat terhadap tanggung jawab perusahaan-perusahaan tersebut.
Sebagai bagian dari tanggapan terhadap kritik Lutfi, Calvin Cheng menegaskan bahwa Singapura tidak akan mundur dari prinsip-prinsip yang diyakini. Ia menunjukkan bahwa ketegangan historis antara Indonesia dan Malaysia tidak akan mempengaruhi keputusan politik atau ekonomis yang diambil oleh Singapura saat ini.
Kedua belah pihak tampaknya berada dalam posisi yang sulit, dengan masing-masing memiliki argumen yang kuat. Lutfi dengan data yang menunjukkan keterlibatan perusahaan-perusahaan Singapura dalam aktivitas yang merusak lingkungan, sementara Cheng dengan sikap defensif yang berakar dari sejarah panjang konfrontasi regional.
Pertentangan ini tidak hanya menyoroti masalah kebakaran hutan, tetapi juga mencerminkan dinamika hubungan antara negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Kritik kebakaran hutan yang dilontarkan oleh Lutfi semakin menambah beban bagi pemerintah Singapura, yang selama ini berusaha menjaga reputasi sebagai negara yang berkomitmen pada keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.
Keberadaan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembakaran hutan di Indonesia dan beroperasi di Singapura memunculkan pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Dalam konteks ini, penting bagi Singapura untuk merefleksikan kebijakan dan praktik bisnis yang ada, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih proaktif untuk menangani isu lingkungan secara komprehensif.
Sebagai respon dari kritik ini, ada harapan bahwa dialog antara kedua negara dapat dilakukan secara konstruktif. Dengan saling mendengarkan dan memahami posisi masing-masing, diharapkan langkah-langkah yang lebih efektif dapat diambil untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan dampaknya terhadap lingkungan.
Dalam jangka panjang, kolaborasi yang lebih erat antara Indonesia dan Singapura diperlukan untuk memastikan bahwa masalah kebakaran hutan tidak hanya menjadi isu bilateral, tetapi juga ditangani sebagai tantangan regional yang memerlukan solusi bersama.
Di tengah ketegangan ini, masyarakat sipil juga memiliki peran penting dalam mendukung upaya perlindungan lingkungan. Kesadaran dan partisipasi publik dalam kampanye penyelamatan hutan dan lingkungan dapat mendorong perubahan yang lebih signifikan.
Seiring dengan meningkatnya tekanan untuk bertindak, baik pemerintah Indonesia maupun Singapura harus mempertimbangkan dampak dari kebijakan yang diambil terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan ke depan akan ada perbaikan dalam penanganan kebakaran hutan serta peningkatan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan di kedua negara.
➡️ Baca Juga: <p>“Mark Gurman Mengungkap Integrasi Apple dengan Teknologi Antropis”</p>
➡️ Baca Juga: Jadwal Liga Inggris Hari Ini: Tottenham vs Man City, Siap untuk Duel Sengit



