kpkgg
bisnis

Rupiah Tertekan, Dolar AS Mencapai Rp18.000: Identifikasi Penyebab Utamanya

Jakarta – Pada awal pekan ini, nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan. Pada hari Senin, 19 Oktober 2026, nilai rupiah menembus angka Rp18.045 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 10.30 WIB.

Posisi ini merupakan kelanjutan dari pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan di hari Jumat sebelumnya.

Pada tanggal 16 Oktober 2026, rupiah ditutup pada level Rp18.027 per dolar AS, mencatatkan penurunan sebanyak 89 poin atau setara dengan 0,50 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.938 per dolar AS. Salah satu faktor yang menekan nilai tukar mata uang Garuda adalah ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS yang diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Muhammad Amru Syifa, seorang analis dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan bahwa peningkatan inflasi di AS membuat pasar semakin memperhatikan arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Inflasi di AS pada bulan September 2026 tercatat meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, meningkat dari angka 3,4 persen yang tercatat pada bulan Agustus. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ekspektasi pasar mengenai kebijakan moneter di AS.

“Apabila suku bunga AS bertahan dalam kisaran tinggi lebih lama, maka dolar AS berpotensi tetap kuat, yang pada gilirannya akan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya di Jakarta pada hari Jumat.

Selain faktor kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik yang terjadi di Timur Tengah juga menjadi perhatian utama pasar. Perkembangan di wilayah tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk membiayai impor energi.

Dari sisi domestik, pasar juga memperhatikan pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang menjadi pasar yang terpisah.

Amru menambahkan bahwa perkembangan ini berpotensi memengaruhi pandangan investor terhadap pasar keuangan di Indonesia dan dapat menyebabkan penyesuaian portofolio investasi asing. Namun, dampak langsung terhadap nilai tukar rupiah masih sulit untuk dipastikan dan harus dilihat bersamaan dengan faktor lain, termasuk pergerakan dolar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Di tengah tekanan dari faktor eksternal, beberapa indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih memiliki dukungan yang kuat. Bank Indonesia mencatat bahwa utang luar negeri Indonesia pada bulan Agustus 2026 mencapai US$459,3 miliar, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,6 persen. Selain itu, aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) juga memberikan dukungan terhadap pembiayaan pemerintah.

➡️ Baca Juga: 9 Gestur Tersembunyi Android 14 yang Mempercepat Navigasi HP Anda

➡️ Baca Juga: Cara Memilih Matras Yoga Ergonomis untuk Mencegah Sakit Lutut saat Berlatih

Related Articles

Back to top button