slot deposit qris depo 10k
sport

Olahraga Indonesia Butuh Perubahan, Sidik Algadri Usulkan 5 Solusi Efektif untuk Perbaikan

Olahraga di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan serius dalam hal pembangunan dan pengelolaannya, meskipun negara ini memiliki sejarah yang kaya di arena internasional.

Sidik Algadri, seorang mantan atlet judo nasional, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut dan memperkenalkan lima pilar reformasi dalam bukunya yang berjudul “Membangun Otot di Negeri Kertas”. Peluncuran dan pembahasan buku ini berlangsung di Gedung Serbaguna GBK, Jakarta, pada tanggal 5 September 2026.

Sidik menekankan bahwa olahraga seharusnya tidak hanya dianggap sebagai hiburan belaka. Ia berpendapat bahwa olahraga memiliki peran yang jauh lebih signifikan dalam meningkatkan martabat bangsa dan berkontribusi pada pembangunan peradaban.

Ia juga membandingkan perkembangan olahraga di Indonesia dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Menurutnya, negara-negara tersebut kini menunjukkan kemajuan yang lebih signifikan dalam bidang olahraga.

“Kenapa kita bisa kalah dari negara-negara ASEAN? Bahkan dengan negara yang lebih maju pun kita kalah,” ungkap Sidik setelah acara bedah buku di Jakarta, merujuk pada Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Sidik juga menyoroti rendahnya dukungan anggaran untuk sektor olahraga. Ia mencatat bahwa porsi anggaran untuk olahraga di Indonesia masih berada pada angka sekitar 0,02 persen dari total APBN. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa olahraga belum mendapatkan perhatian yang layak.

“Di negara lain, olahraga dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak, bahkan berpotensi mengangkat martabat dan peradaban. Kenapa kita tidak menyadari hal ini?” ujarnya.

Ia memberikan contoh positif dari Jepang, Korea Selatan, dan China, yang memanfaatkan momentum olahraga untuk menunjukkan kemajuan negara mereka kepada dunia. Jepang melalui Olimpiade 1964, Korea Selatan pada Olimpiade 1988, dan China saat menjadi tuan rumah Olimpiade Beijing 2008.

Sidik menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki catatan penting dalam sejarah olahraga di Asia. Negara ini pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962, namun ia mempertanyakan mengapa negara-negara yang dulunya belajar dari Indonesia kini berkembang lebih cepat.

Untuk memperbaiki situasi tersebut, Sidik menawarkan lima pilar reformasi olahraga Indonesia dalam bukunya. Pilar pertama adalah reposisi peran negara, di mana ia berargumen bahwa negara harus berfungsi sebagai regulator dan fasilitator yang kuat, tanpa terlalu terlibat dalam aspek teknis pembinaan yang seharusnya menjadi ranah federasi.

➡️ Baca Juga: Mobil Tertabrak Kereta, Warga Memblokir Rel Sebagai Protes Keamanan Transportasi

➡️ Baca Juga: Gempa Pacitan M6,4 Ternyata Megathrust, BMKG: Getaran Dirasakan hingga Bali

Related Articles

Back to top button