kpkgg
berita

Nelayan Pantai Biaung Berperan Aktif dalam Pelestarian Penyu Lekang dengan Ribuan Tukik Dilepasliarkan

Kepedulian terhadap penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang bersarang di Pantai Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Bali, telah mendorong para nelayan lokal untuk berpartisipasi aktif dalam konservasi spesies yang terancam punah ini. Inisiatif ini bukan hanya sekadar upaya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mencerminkan kesadaran dan tanggung jawab sosial masyarakat pesisir terhadap keanekaragaman hayati.

Masyarakat pesisir, khususnya para nelayan, kini mengambil peran penting dalam melindungi sarang penyu, mengamankan telur-telur yang ada, serta melepas tukik kembali ke habitat alaminya. Keaktifan mereka dalam pelestarian penyu lekang menunjukkan betapa kolaborasi antara komunitas lokal dan konservasi dapat menghasilkan dampak yang signifikan.

Upaya pelestarian penyu ini juga didukung oleh Program Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Sanggaran. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan penyu lekang yang merupakan bagian penting dari ekosistem laut.

Dalam program tersebut, Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Sari Segara Kesiman Kertalangu menerima pendampingan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan warga pesisir dalam melindungi penyu. Hal ini tidak hanya membantu menjaga keberadaan penyu, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi komunitas.

Inisiatif konservasi ini bermula dari kebiasaan sehari-hari warga yang sering melihat penyu datang ke pantai untuk bertelur. Berangkat dari perhatian terhadap lingkungan, mereka mulai mengambil langkah aktif untuk menjaga telur dan memantau sarang penyu, serta memindahkan telur yang berisiko ke area penetasan semi-alami.

Kegiatan yang awalnya dilakukan secara informal ini kemudian berkembang menjadi upaya pelestarian yang lebih terorganisir dengan bantuan pendampingan dari FT Sanggaran. Hal ini memberikan struktur yang jelas bagi aktivitas konservasi yang dilakukan oleh masyarakat.

Ketua POKMASWAS Sari Segara Kesiman Kertalangu, I Made Bagus Mahayana, menjelaskan bahwa keterlibatan warga berawal dari rasa kepedulian terhadap lingkungan di sekitar mereka. “Kami dulunya adalah nelayan. Ketika sering melihat penyu naik ke Pantai Biaung untuk bertelur, kami merasa perlu untuk melindungi telur-telurnya. Dari situ, kami belajar untuk memantau sarang, merelokasi telur yang terancam, hingga tukik menetas dan akhirnya dilepasliarkan kembali,” ungkap I Made Bagus Mahayana.

Pendampingan yang diberikan dalam program ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pemantauan sarang penyu, pemindahan telur, hingga manajemen tempat penetasan atau hatchery. Selain itu, pencatatan perkembangan telur dan pelepasan tukik juga menjadi bagian penting dari upaya ini.

Hingga tahun 2026, program ini telah berhasil menghasilkan ribuan tukik yang menetas dan dikembalikan ke habitat alami mereka. Keberhasilan ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan lembaga dalam menjaga spesies yang terancam punah.

Program ini juga berperan dalam meningkatkan kapasitas 13 anggota POKMASWAS agar mereka dapat mengelola kegiatan konservasi secara lebih terkoordinasi dan berkelanjutan. Dengan pelatihan dan dukungan yang memadai, diharapkan masyarakat dapat terus berkontribusi dalam menjaga kelestarian penyu lekang.

Ahad Rahedi, selaku Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, menekankan bahwa keterlibatan masyarakat adalah elemen kunci dalam upaya perusahaan untuk melestarikan keanekaragaman hayati melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankannya.

“Pertamina berkomitmen untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam konservasi. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan ekosistem yang ada,” tambah Ahad Rahedi.

Dengan kolaborasi yang erat antara nelayan, masyarakat lokal, dan lembaga, upaya pelestarian penyu lekang di Pantai Biaung telah memberikan harapan baru bagi spesies yang terancam punah ini. Pelestarian penyu lekang bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan merupakan upaya bersama yang melibatkan banyak pihak demi keberlangsungan ekosistem laut yang sehat.

➡️ Baca Juga: Persija Tampilkan 50 Persen Kemampuan dengan Kemenangan atas Borneo FC di Liga 1

➡️ Baca Juga: Eks Timnas Iran Hilang Secara Misterius Usai Kritik Ali Khamenei, Pelatih Real Madrid Marah

Related Articles

Back to top button