Sopir Eks Pimpinan Ponpes Lombok Tengah Terlibat Pelecehan Santriwati dengan Modus Pelatih Bela Diri

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengungkapkan dugaan keterlibatan seorang sopir mantan pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Lombok Tengah dalam kasus pelecehan santriwati.
Ketua LPA Mataram, Joko Jumadi, menginformasikan bahwa terduga pelaku juga diduga telah melakukan pencabulan terhadap empat santriwati. Hal ini menambah keprihatinan terhadap keamanan anak-anak di lingkungan pendidikan agama.
Korban dari terduga pelaku yang berinisial M juga merupakan mantan korban dari pimpinan ponpes berinisial MIS, yang memilih mengundurkan diri setelah kasusnya viral sebagai terduga pelaku pelecehan seksual terhadap santriwati.
Joko menegaskan bahwa keempat santriwati yang menjadi korban M telah menyelesaikan masa belajar mereka dan berani mengungkapkan diri sebagai korban setelah kasus MIS menjadi perhatian publik di media sosial.
Modus operandi terduga M dalam melancarkan aksinya adalah dengan memperkenalkan diri sebagai pelatih bela diri kepada para santriwati. Hal ini menciptakan kepercayaan yang memungkinkan aksi bejatnya berlangsung.
Selama sesi pelatihan, terduga M diduga menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh korban, yang merupakan tindakan tidak pantas dan melanggar hak asasi manusia.
Walaupun beberapa korban M juga pernah menjadi sasaran dari MIS, Joko memastikan akan ada laporan terpisah yang akan dibuat untuk menindaklanjuti kasus ini di pihak kepolisian.
“Nanti kami akan menyusun laporan secara terpisah. Kami akan menginformasikan lebih lanjut mengenai proses pelaporannya,” tutup Joko, memberikan harapan bagi para korban untuk mendapatkan keadilan.
➡️ Baca Juga: Suami Ci Mehong Tidak Bekerja, Beban Finansial Pemicu Perceraian Terungkap
➡️ Baca Juga: John Herdman Antusias Sambut Piala AFF 2026, Inilah Persiapan Timnya!




