Kembangkan Ubi Kayu untuk Industri Bioetanol, PTPN III dan Unila Tandatangani MoU

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan Universitas Lampung (Unila) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang berfokus pada kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia.
Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mendukung mandat pemerintah kepada PTPN III dalam mengembangkan ubi kayu, yang dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam ketahanan pangan dan energi di Indonesia.
“Kerjasama ini akan berfokus pada peningkatan penelitian, pengembangan varietas unggul, peningkatan produktivitas, pendampingan dalam budidaya, serta dukungan teknis untuk mengembangkan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol,” jelas Denaldy dalam keterangan persnya.
Dia menekankan bahwa kemitraan dengan Unila memiliki nilai strategis, mengingat Unila memiliki National Cassava Center (NCC), yang berfungsi sebagai pusat studi dan pengembangan ubi kayu nasional, serta menjadi referensi untuk inovasi dan teknologi di bidang ini di Indonesia.
“Kolaborasi ini sejalan dengan tugas yang kami emban untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui pengembangan komoditas strategis. Kami optimis bahwa kerja sama ini dapat menghasilkan inovasi yang praktis dan memberikan dampak positif di lapangan,” tambahnya.
Denaldy juga menyatakan bahwa pengembangan ubi kayu akan diarahkan untuk mendukung industri bioetanol, sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat sumber energi terbarukan di Indonesia.
Berbeda dengan bahan baku yang selama ini banyak menggunakan molase dari tebu, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas pasokan tebu, yang saat ini menjadi fokus pemerintah dalam mencapai swasembada gula.
Diketahui bahwa PTPN III dan Unila akan memfokuskan pengembangan pada varietas ubi kayu yang sesuai dengan kebutuhan industri bioetanol. Ini termasuk pengembangan melalui sistem tanam Mukibat, yang menawarkan potensi produktivitas tinggi, kadar pati yang lebih besar, serta karakteristik yang cocok untuk kebutuhan industri.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian di Malang, ubi kayu stek sambung (Mukibat) memiliki prospek yang baik dalam memenuhi kebutuhan industri dan pangan, terutama dalam percepatan pencapaian produksi.
Secara ekonomi, ubi kayu stek sambung sangat layak untuk dikembangkan, karena dapat memberikan hasil produksi 65,1 persen lebih tinggi dengan kadar pati 52,4 persen lebih besar. Ubi kayu ini dapat dipanen dalam waktu 10 bulan tanpa mengurangi kadar bahan kering umbi dan total kadar gula. Dengan penerapan sistem ini di PTPN, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas rata-rata nasional saat ini.
➡️ Baca Juga: Harga Emas Dunia Meningkat, Siapkan Diri Menghadapi Dampaknya Bulan Depan
➡️ Baca Juga: Menaker Jamin Aplikator Akan Salurkan BHR Ojol dengan Lebih Baik Tahun Ini




