Rupiah Tertekan di Rp 17.293 Akibat Kekhawatiran Pasar Terhadap Narasi BI tentang ‘Undervalued

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus mengalami fluktuasi, namun pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup dalam posisi melemah.
Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, pada Selasa, 28 April 2026, kurs rupiah tercatat berada di level Rp 17.245 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 18 poin dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 17.227 pada perdagangan Senin, 27 April 2026.
Sementara itu, dalam perdagangan pasar spot pada Rabu, 29 April 2026, hingga pukul 09.09 WIB, nilai tukar rupiah berada di angka Rp 17.293 per dolar AS. Ini merupakan penurunan sebesar 50 poin atau 0,29 persen dari posisi sebelumnya yang ada di Rp 17.243 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi dan pasar uang, menyatakan bahwa dalam situasi pelemahan rupiah, baik pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) cenderung berpendapat bahwa nilai rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.
Pernyataan tersebut terus diulang dalam berbagai kondisi, baik saat terjadi gejolak global, pandemi, maupun ketika situasi pasar terbilang stabil. Bahkan, ketika nilai tukar menyentuh kisaran Rp 17.300 per dolar AS, narasi yang sama kembali muncul.
Melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya, sejak 2014, nilai rupiah berada di sekitar Rp 12.000 per dolar AS, namun dalam beberapa tahun belakangan ini telah melemah hingga mencapai level Rp 17.000-an. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi narasi yang diulang-ulang tersebut, mengingat tren jangka panjang rupiah justru menunjukkan depresiasi yang berkelanjutan.
“Kondisi ini seharusnya mendorong adanya evaluasi yang lebih mendalam terhadap pemahaman mengenai nilai wajar rupiah, alih-alih hanya mengulangi narasi yang sama,” ungkap Ibrahim dalam riset hariannya pada Rabu, 29 April 2026.
Di satu sisi, beberapa indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang relatif kuat. Beberapa di antaranya adalah inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta sistem keuangan yang tetap terpelihara.
Namun, terdapat juga dinamika struktural yang perlu mendapatkan perhatian serius. Hal ini termasuk cadangan devisa yang sebagian besar didorong oleh utang, arus investasi asing yang masuk namun diimbangi dengan aliran keluar dalam bentuk dividen dan bunga, serta tanda-tanda melemahnya struktur ekonomi seperti deindustrialisasi dini.
Ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek juga menjadi salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap tekanan dari luar.
➡️ Baca Juga: 10 Tab Chrome Habiskan 1GB RAM? Ini Penyebab & 5 Solusi Efektif!
➡️ Baca Juga: Startup Lokal Bikin Smartwatch Bisa Deteksi Serangan Jantung 10 Detik Awal Gratis Install




