Iran Tetap Raup Keuntungan dari Penjualan Minyak di Tengah Konflik Berkepanjangan

Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengungkapkan bahwa penjualan minyak negara tersebut tetap berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan meski di tengah konflik berkepanjangan. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa dan dilaporkan oleh Fars News Agency pada 14 April 2026.
Paknejad menambahkan bahwa hasil dari penjualan minyak selama bulan Esfand dan Farvardin—dua bulan dalam kalender Iran yang jatuh antara akhir Februari hingga akhir April—telah mencapai tingkat yang memuaskan. Ia juga mengindikasikan bahwa sebagian dari pendapatan ini akan digunakan untuk memperbaiki sektor energi nasional yang terkena dampak akibat konflik yang terjadi.
Ia menekankan pentingnya pengoptimalan alokasi dana dari hasil penjualan minyak agar dapat diprioritaskan untuk mendukung pemulihan infrastruktur energi. Ini termasuk perbaikan kilang, pipa, fasilitas penyimpanan, dan terminal ekspor yang mengalami kerusakan akibat serangan yang terjadi.
Pernyataan tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Iran di tengah tekanan dari sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat serta gangguan distribusi energi di kawasan tersebut. Sejak serangan yang diduga melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, jalur ekspor energi Iran mengalami berbagai tantangan, termasuk gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia.
Walaupun volume ekspor mengalami dampak, peningkatan harga minyak dunia selama konflik ini berkontribusi pada lonjakan nilai setiap barel minyak yang berhasil dijual oleh Iran. Berdasarkan laporan bulanan pasar minyak OPEC edisi April, harga rata-rata minyak mentah Brent pada bulan Maret mencapai 99,60 dolar AS per barel, meningkat tajam dari rata-rata sebelum konflik yang berkisar di angka 76 dolar AS per barel pada tahun 2025. Harga acuan OPEC bahkan melampaui 116,36 dolar AS per barel dalam periode yang sama.
Kondisi ini membuat setiap barel minyak yang berhasil diekspor oleh Iran, termasuk yang dijual ke China dan melalui mekanisme perdagangan dengan negara-negara sahabat, memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan situasi sebelum terjadinya konflik.
Paknejad menekankan bahwa rencana pemanfaatan pendapatan dari minyak untuk rekonstruksi sektor energi menunjukkan kesiapan Iran dalam menghadapi fase pascakonflik. Ia menunjukkan keyakinan bahwa negara tersebut akan mampu menjaga kendali atas sumber daya energinya dan memiliki kapasitas finansial untuk memperbaiki kerusakan yang ada.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk India juga menyatakan bahwa Teheran siap untuk menjual minyak kepada negara mana pun yang tertarik. Pernyataan Paknejad semakin memperkuat sinyal bahwa ekspor minyak Iran tetap berlangsung meskipun di tengah konflik dan tekanan sanksi yang ada.
➡️ Baca Juga: Jadwal Resmi TKA SD & SMP 2026: Link Simulasi dan Waktu Tes Lengkap
➡️ Baca Juga: Fakta 70% Aplikasi di HP Samsung Itu Bloatware yang Bisa Dihapus Tanpa Root




