Harga Solar di Beberapa Negara Asia Capai Rp51 Ribu per Liter, Ancaman Krisis Pangan Meningkat

Jakarta – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Myanmar semakin memperburuk keadaan ekonomi masyarakat setempat dan berpotensi mengancam ketahanan pangan. Kelangkaan solar telah menyebabkan petani kesulitan dalam proses pemanenan padi, sementara warga di kota harus menghabiskan waktu hingga enam jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Di tengah musim panen padi, yang merupakan waktu krusial bagi para petani, banyak lahan yang belum dapat dipanen tepat waktu akibat minimnya pasokan bahan bakar untuk menjalankan mesin pertanian. Kondisi ini menjadi semakin mendesak mengingat musim hujan diprediksi akan tiba pada bulan Mei.
Seorang petani menyatakan bahwa banyak hasil panen sudah melebihi waktu panen ideal dan berisiko mengalami kerusakan jika cuaca semakin buruk. “Banyak hasil panen kini telah melewati waktu panen. Jika air pasang naik atau cuaca menjadi tidak bersahabat, hal itu akan sangat menghancurkan bagi kami,” ungkap petani tersebut dalam sebuah wawancara.
Ia juga menjelaskan bahwa panen secara manual bukanlah solusi yang tepat, karena para petani tetap memerlukan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin perontok padi. “Meskipun kami mampu melakukannya, ketersediaan bahan bakar sangat terbatas. Menemukannya hampir mustahil,” tambahnya.
Petani kecil menjadi kelompok yang paling terkena dampak krisis ini, karena akses mereka terhadap BBM jauh lebih sulit dibandingkan dengan mereka yang memiliki modal yang lebih besar. “Mereka yang memiliki uang dapat menggunakan koneksi untuk mendapatkan yang mereka butuhkan, tetapi kami, petani kecil, adalah pihak yang paling menderita,” lanjutnya.
Harga BBM di pasar gelap dilaporkan melonjak hingga sekitar 12.000 kyat per liter, yang setara dengan sekitar US$3 atau Rp51.000 per liter, berdasarkan kurs Rp17.000 per dolar AS. Angka ini lebih dari dua kali lipat harga resmi yang ditawarkan di SPBU.
Akibat kondisi ini, banyak petani terancam gagal panen. Sebagian besar dari mereka bergantung pada pinjaman untuk membiayai berbagai proses pertanian, mulai dari pembelian pupuk, penyewaan alat, hingga penggilingan hasil panen. Penurunan hasil panen akan membuat beban utang mereka semakin berat.
Dampak dari krisis BBM juga dirasakan oleh para buruh tani di wilayah Delta Ayeyarwady, yang merupakan salah satu sentra produksi beras utama di Myanmar. Banyak pekerja migran kehilangan pekerjaan mereka karena melambatnya proses panen.
Krisis bahan bakar juga memberikan dampak signifikan di kota-kota besar. Di Yangon, para pengendara harus mengantre hingga enam jam di SPBU, dan beberapa stasiun pengisian bahkan dilaporkan kehabisan stok, memaksa warga untuk membeli dari pasar gelap.
➡️ Baca Juga: Build PC Mini ITX Gaming: Rekomendasi Case, PSU, dan Cooler
➡️ Baca Juga: <p>Buka Fitur Pesan yang Disempurnakan iOS 26 dengan Perubahan Pengaturan Sederhana Ini</p>




