Prabowo Menghadapi Kritik Terkait Kunjungan ke Luar Negeri untuk Urusan Minyak

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa dia sering menghadapi kritik terkait frekuensi kunjungan kenegaraannya ke luar negeri. Kritik ini semakin mengemuka mengingat situasi krisis ekonomi global yang tengah melanda, khususnya akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam penjelasannya, Prabowo menyatakan bahwa tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah untuk memastikan ketersediaan sumber energi, termasuk minyak mentah yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prabowo dalam sebuah taklimat di Rapat Kerja Pemerintah yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 8 April 2026.
Prabowo menjelaskan, “Ada yang bilang saya hanya jalan-jalan ke luar negeri, seolah-olah saya senang liburan. Namun, saya perlu mengamankan pasokan minyak, jadi saya harus melakukan kunjungan ke berbagai negara.”
Ia menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah Jepang sangat penting dalam upaya meningkatkan produksi energi di Indonesia.
Langkah-langkah serupa akan diambil ke negara-negara lain untuk memastikan keberlangsungan ketahanan energi dalam negeri.
“Saya baru dari Jepang, dan saya mendapatkan berbagai hal positif di sana. Sekarang, saya akan berangkat lagi ke negara lain. Begitu saya berangkat, saya akan memberitahu Anda tujuannya untuk mengamankan pasokan energi,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menegaskan rasa optimisnya, “Saya yakin, tidak ada istilah Indonesia dalam keadaan suram. Justru, Indonesia dapat bersinar di tengah banyak negara yang sedang menghadapi kesulitan.”
Diketahui bahwa Prabowo baru saja menyelesaikan serangkaian kunjungan kenegaraan ke Jepang dan Korea Selatan. Kunjungan ini menghasilkan komitmen kerja sama bisnis yang signifikan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa total nilai dari kesepakatan bisnis yang berhasil dijalin dengan kedua negara tersebut mencapai USD 33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun.
“Dari Jepang, terdapat komitmen bisnis sebesar USD 23,63 miliar atau sekitar Rp401,7 triliun, sedangkan dari Korea Selatan mencapai USD 10,26 miliar atau sekitar Rp174 triliun. Jadi, total keseluruhan mencapai USD 33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun,” jelas Teddy pada Kamis, 2 April 2026.
Menurutnya, hasil ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo, terutama dalam mendukung hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi, serta pembangunan sektor-sektor strategis nasional.
Lebih lanjut, Teddy menekankan bahwa keterlibatan langsung Presiden Prabowo dalam dialog dengan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam tercapainya kesepakatan tersebut.
➡️ Baca Juga: Prabowo Instruksikan Kapolri, Panglima TNI, dan Menteri Keuangan Berantas Penyelundupan
➡️ Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini Senin 9 Maret 2026 untuk Jakarta dan Sekitarnya




