Sebagian warga di Kabupaten Jember dan Bondowoso merayakan Lebaran lebih awal dengan melaksanakan Salat Ied pada hari Kamis. Perayaan yang berlangsung di sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Dluror ini menandai momen penting dalam kalender Islam yang penuh makna.
Ribuan jamaah berkumpul untuk melaksanakan Salat Ied di Masjid Salafiyah Syafi’iyah serta kompleks Pondok Pesantren Mahfilud Dluror, yang terletak di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk. Lokasi ini berdiri di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Bondowoso, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di kalangan masyarakat.
“Tradisi penentuan 1 Syawal ini sudah lama diterapkan oleh para kiai tua,” ungkap Kiai Hafid Malik, yang bertindak sebagai Imam Salat Id di Masjid Salafiyah Syafi’iyah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa metode ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi lokal.
Warga sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Dluror melaksanakan puasa lebih awal pada Selasa, 17 Februari, mengikuti ketentuan yang berdasarkan pada Kitab Salaf Nushatul Majaalis wa Muntahobul Nafaais. Metode ini telah diterapkan sejak tahun 1826, berbeda dengan cara hisab dan rukyat yang umumnya digunakan oleh pemerintah dan organisasi Muhammadiyah.
“Semua yang menjalankan puasa akan mendapatkan berkah, sedangkan yang tidak puasa mungkin kurang beruntung. Semoga puasa kita semua diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT),” harap Kiai Hafid. Ucapan ini mencerminkan harapan akan saling menghargai di antara sesama umat.
Penting untuk mengedepankan rasa saling menghormati dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal. Dengan cara ini, setiap golongan dapat hidup rukun dan saling menghargai keyakinan masing-masing.
Salah satu warga dari Bondowoso, Muzaki, mengungkapkan bahwa keluarganya berangkat pukul 04.00 WIB agar bisa mengikuti Salat Id di Masjid Salafiyah Syafi’iyah. Keterikatan Muzaki dengan pesantren membuatnya selalu mengikuti penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal yang ditentukan oleh pondok.
“Saya merupakan alumni pesantren, begitu juga dengan ayah saya. Kami selalu mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh pondok,” jelasnya. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Muzaki juga menjelaskan bahwa pengumuman mengenai penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah telah disampaikan saat awal Ramadhan. Dengan demikian, para jamaah di pondok pesantren sudah mengetahui bahwa Salat Id akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026.
Warga sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Dluror telah terbiasa menghadapi perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena perbedaan tersebut sering terjadi antara pemerintah dan Muhammadiyah, sehingga warga saling menghormati dan hidup rukun.
Pelaksanaan Salat Id di Desa Suger Kidul juga mendapatkan pengamanan dari TNI dan Polri yang bersiaga sejak pagi. Dengan adanya pengamanan ini, masyarakat dapat melaksanakan ibadah Salat Id dengan tenang dan khusyuk.
Momen Lebaran di Jember dan Bondowoso bukan hanya sekedar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga. Dengan saling menghormati tradisi dan keyakinan, masyarakat dapat merayakan hari besar ini dengan penuh khidmat dan kegembiraan.
➡️ Baca Juga: Cara Streaming Game ke Twitch & YouTube: OBS Setting 1080p 60fps
➡️ Baca Juga: 7 Software AI untuk Edit Foto Offline Terbaik 2024, Tanpa Butuh Internet!

