PlayStation & Xbox

PS5 Pro DSC Compression Gak Support TV 8K Sony Z9J, Paradoks

Dunia gaming selalu dinanti dengan kehadiran console generasi terbaru. Setiap peluncuran membawa janji visual yang lebih menakjubkan dan pengalaman bermain yang makin mendalam. Klaim tentang resolusi tertinggi pun sering menjadi sorotan utama.

Namun, terkadang ada kejutan teknis yang justru memicu perbincangan hangat. Seperti sebuah paradoks yang baru-baru ini mencuat di komunitas. Bagaimana mungkin fitur unggulan dari perangkat hiburan rumahan ternama justru tidak selaras dengan produk andalannya sendiri?

Artikel ini hadir untuk mengupas kebenaran di balik klaim tersebut dengan jujur dan jelas. Kami akan menjelaskan batasan teknologi saat ini dengan bahasa yang mudah dipahami. Tujuannya, agar Anda sebagai gamer di Indonesia bisa membuat keputusan investasi yang tepat untuk setup gaming masa depan.

Poin-Poin Penting

  • Artikel akan mengupas tuntas klaim kemampuan visual dari konsol generasi terbaru versus kenyataan teknisnya.
  • Mengungkap paradoks ketidakcocokan antara fitur utama perangkat dengan televisi flagship dari brand yang sama.
  • Menjelaskan mengapa isu ini penting untuk dipahami oleh para penggemar teknologi dan gaming.
  • Mengajak pembaca untuk melihat klaim pemasaran dengan lebih kritis dan informatif.
  • Memberikan gambaran jujur tentang apa yang benar-benar bisa diharapkan dari pengalaman bermain game resolusi ultra tinggi.
  • Pembahasan dimulai dari perkembangan klaim visual hingga peluncuran produk terbaru.
  • Artikel ditujukan untuk membantu gamer di Indonesia yang merencanakan setup gaming next-gen.

Pengantar: Mencari Kebenaran di Balik Klaim 8K PS5 Pro

Ada sebuah cerita menarik tentang evolusi klaim kemampuan visual dari sebuah raksasa teknologi hiburan. Sejak peluncuran perangkat generasi sebelumnya, janji untuk bisa menikmati game dalam resolusi ultra tinggi sudah digaungkan. Banyak gamer yang menanti-nanti momen dimana mereka bisa melihat setiap detail dengan kejernihan maksimal.

Namun, jalan ceritanya tidak selalu lurus. Di tahun 2024, terjadi perubahan halus yang patut dicermati. Sony secara diam-diam menghapus klaim dukungan untuk resolusi tersebut dari materi pemasaran untuk konsol standar mereka. Fakta ini seperti sebuah koreksi yang tidak diumumkan.

Kemudian, hadirlah varian terbaru yang lebih kuat, yaitu ps5 pro. Konsol ini kembali membawa klaim yang sama ke depan panggung. Tentu saja, ini langsung memicu tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya berbeda dengan pendahulunya? Apakah kali ini janji itu akan benar-benar terwujud?

Secara teknis, jawaban singkatnya adalah iya. Perangkat ini memang dilengkapi port HDMI 2.1 yang mampu mengirimkan sinyal dengan resolusi tersebut. Tapi, di situlah letak peringatannya. Kemampuan output itu hanyalah bagian pertama dari sebuah cerita yang jauh lebih panjang dan rumit.

Sebagai pemain, kita sering kali dihadapkan pada spesifikasi yang tercetak di kotak dan klaim pemasaran yang membingungkan. Nada jujur dan transparan sangat kita butuhkan. Penting untuk menggali lebih dalam untuk menemukan “kebenaran” praktis di balik angka-angka yang terlihat mentereng.

Pencarian kebenaran ini membawa kita pada sebuah paradoks yang akan kita bahas. Bagaimana mungkin fitur unggulan justru menemui issue kompatibilitas dengan produk andalan dari brand yang sama? Dukungan untuk resolusi ekstrem bukanlah fitur plug-and-play. Ia membutuhkan rantai perangkat, mulai dari konsol hingga layar, yang semuanya harus selaras.

Jadi, sebelum kita terjun ke detail teknis yang pelik, mari kita lihat dulu klaim besar apa yang sebenarnya diusung. Dengan begitu, kita bisa menilai harapan versus kenyataan dengan cara yang lebih jelas.

Klaim Besar Sony: Akhirnya, 8K Gaming yang Nyata?

Dengan kehadiran varian yang lebih kuat, harapan untuk melihat setiap detail game dengan kejernihan maksimal kembali membara. Klaim “pengalaman bermain game 8K sejati” menjadi bintang utama dalam kampanye peluncuran. Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini akhir dari perjalanan panjang menunggu?

Janji itu terdengar meyakinkan. Namun, seperti biasa dalam dunia teknologi, yang tertera di kotak seringkali hanya separuh cerita. Untuk memahami klaim besar ini, kita perlu menelusuri akar permasalahan teknis yang menghambat generasi sebelumnya.

Dari PS5 ke PS5 Pro: Perjalanan Panjang Menuju 8K

Konsol generasi sebelumnya sudah dilengkapi dengan port HDMI 2.1. Spesifikasi ini menjanjikan bandwidth hingga 32Gbps. Angka itu terdengar besar, tetapi nyatanya memiliki batasan.

Bahkan untuk mencapai output 4K pada 120Hz, perangkat itu harus melakukan kompromi. Teknik yang disebut chroma subsampling digunakan, yang sedikit mengurangi kualitas warna. Ini adalah bukti bahwa jalur datanya sudah kepenuhan.

Masalahnya menjadi lebih jelas saat membahas resolusi ultra tinggi. Untuk menampilkan gambar 8K pada 60Hz tanpa kompresi, dibutuhkan bandwidth sekitar 48Gbps. Jelas, batas 32Gbps tidak akan cukup.

Fakta inilah yang membuat konsol standar tidak pernah benar-benar menghadirkan gaming pada resolusi tersebut. Klaim awalnya lebih bersifat teoritis, tergantung pada perkembangan teknologi kompresi di masa depan.

Apa yang Berbeda pada PS5 Pro?

Perbedaan utamanya bukan pada peningkatan kecepatan port hdmi 2.1. Varian yang ditingkatkan ini tetap menggunakan batasan bandwidth yang sama, yaitu 32Gbps. Solusinya datang dari perangkat lunak.

Sony menambahkan dukungan untuk teknologi bernama Display Stream Compression (DSC). Ini adalah metode pintar untuk memampatkan sinyal video sebelum dikirim melalui kabel.

Keuntungan besar DSC adalah sifatnya yang perceptually lossless. Artinya, kompresi ini dilakukan tanpa mengorbankan kualitas warna yang dapat dilihat oleh mata kita. Berbeda dengan kompromi pada generasi sebelumnya.

Bayangkan seperti mengemas pakaian dalam tas perjalanan. Dengan teknik melipat yang baik, semua barang muat tanpa merusak kainnya. DSC bekerja dengan cara serupa pada data video.

Dengan trik ini, sinyal dengan resolution 8K 60Hz yang biasanya membutuhkan jalur lebar, kini bisa melewati pipa 32Gbps. Ini adalah pencapaian rekayasa perangkat lunak yang patut diacungi jempol.

Namun, pendekatan ini membawa trade-off. Ketergantungan pada kompresi perangkat lunak bisa membuat konsol kurang siap untuk standar masa depan yang lebih demanding. Selain itu, ia menambah lapisan kompleksitas baru.

Kini, tidak hanya konsol dan layar yang harus mendukung HDMI 2.1. Keduanya juga harus sama-sama memahami dan mendukung protokol DSC agar bisa berkomunikasi dengan lancar. Di sinilah benih masalah kompatibilitas mulai tumbuh.

PS5 Pro DSC Compression TV 8K Sony Z9J: Di Mana Masalahnya?

Sebuah puzzle teknis muncul ketika konsol generasi terbaru bertemu dengan televisi flagship. Klaim besar tentang resolusi ultra tinggi seringkali terhalang oleh detail komunikasi antar perangkat. Masalahnya tidak terletak pada kekuatan prosesor atau keindahan panel layar.

Isu utamanya adalah bagaimana data visual yang sangat besar itu dikirimkan. Dari satu kotak ke kotak lainnya melalui seutas kabel. Jika bahasa yang digunakan berbeda, maka hasilnya pasti tidak akan maksimal.

Apa Itu Display Stream Compression (DSC) dan Mengapa Diperlukan?

Display Stream Compression adalah sebuah protokol pintar. Fungsinya mirip dengan aplikasi ZIP untuk file video. Ia memampatkan aliran data visual sebelum dikirimkan.

Proses ini disebut perceptually lossless. Artinya, mata manusia tidak akan melihat perbedaan kualitas setelah kompresi. Warna dan detail tetap terjaga dengan sangat baik.

Mengapa teknologi ini menjadi kunci? Bandwidth pada port HDMI 2.1 memiliki batas maksimal. Untuk menampilkan gambar pada resolusi sangat tinggi dengan frame rate mulus, data yang dibutuhkan sangat besar.

Tanpa bantuan stream compression, pipa data itu akan langsung penuh dan macet. Hasilnya adalah gambar yang tidak bisa ditampilkan sama sekali. Di sinilah DSC bertindak sebagai pengatur lalu lintas yang cerdas.

Metode Transmisi VideoBandwidth yang Dibutuhkan (untuk 8K 60Hz)Kualitas VisualTingkat Kompatibilitas
Native (Tanpa Kompresi)~48 GbpsOriginal, TerbaikSangat Terbatas
Chroma Subsampling (4:2:0)~32 GbpsSedikit Berkurang pada WarnaLebih Luas
Display Stream Compression (DSC)~18-25 Gbps (setelah kompresi)Perceptually LosslessBergantung pada Dukungan Perangkat

Dengan tabel di atas, kita bisa melihat solusi yang ditawarkan. Display stream yang dikompresi membutuhkan jalur data yang lebih kecil. Ini memungkinkan perangkat dengan bandwidth terbatas tetap mengirimkan konten berkualitas tinggi.

Namun, ada syarat mutlak. Baik pengirim signal maupun penerimanya harus memahami bahasa yang sama. Kedua perangkat harus memiliki support dsc yang aktif dan berfungsi. Jika salah satu tidak mendukung, maka komunikasi gagal total.

Paradoks Sony: TV 8K Flagship Z9J Justru Tidak Kompatibel

Inilah inti dari issue yang mengejutkan banyak orang. Sebuah televisi premium dari pabrikan ternama, yang dirilis dengan klaim panel 8K terbaik, ternyata tidak bisa “berbicara” dengan konsol terbaru dari rumah yang sama.

Model Z9J tidak dilengkapi dengan dukungan untuk protokol DSC melalui port HDMI 2.1-nya. Ketika dihubungkan, konsol akan mendeteksi ketidakcocokan ini. Sistem kemudian secara otomatis menurunkan output ke resolusi 4K yang bisa dipahami oleh kedua belah pihak.

Fakta ini diungkapkan oleh perusahaan itu sendiri. Hanya model penerusnya, Z9K dari tahun 2022, yang memiliki fitur support lengkap untuk teknologi kompresi ini. Perbedaan generasi yang hanya setahun ternyata membawa perubahan teknis yang signifikan.

Implikasinya cukup besar bagi konsumen. Seseorang mungkin membeli televisi mahal dengan ekspektasi kompatibilitas masa depan. Mereka berharap bisa menikmati fitur terbaru dari konsol yang akan datang.

Kenyataannya, memiliki panel 8K saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kecerdasan di balik layar untuk menerima dan memproses video yang dikirimkan dengan metode mutakhir. Ini adalah pelajaran berharga tentang membaca spesifikasi dengan lebih kritis.

Paradoks ini menyoroti sebuah realitas. Dalam ekosistem teknologi, keselarasan antar produk dari brand yang sama pun tidak dijamin. Setiap pembelian perangkat high-end membutuhkan riset yang mendalam, tidak hanya tentang spesifikasi, tetapi juga tentang bahasa teknis yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.

Daftar Game yang Mendukung Output 8K di PS5 Pro

daftar game kompatibel 8K

Mari kita lihat kenyataan di lapangan: game apa saja yang benar-benar bisa dimanfaatkan dengan resolusi ultra tinggi ini? Setelah membahas tantangan teknis dan kompatibilitas perangkat, kini waktunya melihat bukti nyata dari para pengembang.

Dukungan untuk sebuah fitur baru selalu dimulai dari segelintir pelopor. Saat ini, hanya ada beberapa judul yang secara resmi telah mengimplementasikan mode output khusus.

Daftarnya masih sangat terbatas, menunjukkan bahwa adopsi teknologi ini oleh studio game masih dalam tahap awal.

Berikut adalah list lengkap games yang telah dikonfirmasi mendukung resolusi tersebut pada konsol terbaru, beserta target frame rate-nya:

  • The Callisto Protocol: Berjalan pada 30 fps dengan dukungan ray tracing tetap aktif.
  • F1 24: Menawarkan pengalaman lebih lancar pada 60 fps.
  • Gran Turismo 7: Menargetkan 60 fps (patch belum dirilis).
  • No Man’s Sky: Berjalan pada 30 fps untuk eksplorasi antariksa.
  • Redacted: Juga mencapai 60 fps.
  • The Touryst: Game indie yang telah diperbarui, menambah total menjadi enam judul (per November 2025).

Perlu diingat, untuk menikmati mode ini, Anda memerlukan layar yang kompatibel dengan teknologi kompresi DSC. Tanpanya, output akan secara otomatis turun ke 4K.

Gran Turismo 7: Mode Eksperimental yang Dinantikan

Gran Turismo 7 adalah judul andalan. Namun, penggemar masih harus bersabar. Patch peningkatan khusus untuk konsol ini belum tersedia untuk umum.

Yang menarik, pengembang menyebut mode 8K-nya sebagai “eksperimental”. Istilah ini mengisyaratkan bahwa fitur tersebut masih dalam penyempurnaan. Stabilitas dan optimasi mungkin masih menjadi pekerjaan rumah.

Untuk mencapai target 60 fps yang mulus, game balap ini melakukan kompromi signifikan. Fitur ray tracing harus dinonaktifkan selama bermain.

Ini adalah pertukaran yang menarik. Detail cahaya dan bayangan yang realistis mungkin lebih terlihat oleh mata daripada peningkatan jumlah piksel. Keputusan ini menunjukkan betapa menantangnya merender dunia yang kompleks pada resolution sangat tinggi.

No Man’s Sky & Lainnya: Pengalaman 8K dengan Frame Rate Berbeda

Judul lain seperti No Man’s Sky memilih pendekatan berbeda. Game ini mempertahankan output 30 fps untuk menjaga kompleksitas alam semesta proseduralnya.

Pengalaman yang lebih cinematic ini cocok untuk eksplorasi. Sementara itu, F1 24 dan Redacted memprioritaskan kelancaran dengan 60 fps.

The Callisto Protocol unik karena mempertahankan ray tracing pada 30 fps. Ini menawarkan visual yang sangat detail, meski dengan gerakan yang sedikit lebih lambat.

Keberagaman ini menunjukkan tidak ada satu formula yang pasti. Setiap pengembang memilih prioritas sesuai kebutuhan game-nya.

Fakta penting: semua game dalam daftar ini tidak melakukan render native pada resolusi penuh. Mereka mengandalkan teknik pintar yang disebut upscaling. Teknologi inilah yang akan kita bahas secara mendalam pada bagian selanjutnya.

Singkatnya, meski daftarnya pendek, ini adalah awal yang penting. Bagi pemilik perangkat yang tepat, inilah judul-judul perintis untuk diuji.

Realita di Balik “8K”: PSSR dan Seni Upscaling

Sebelum terpesona oleh janji visual ultra tinggi, ada baiknya kita memahami bagaimana itu sebenarnya dihasilkan. Klaim keluaran pada resolusi tersebut sering kali disalahartikan sebagai kekuatan mentah untuk merender gambar.

Kenyataannya, tidak ada game yang benar-benar melakukan proses rendering pada 4320p asli. Konsol generasi terbaru ini tidak memiliki daya komputasi untuk tugas seberat itu.

Apa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah seni rekayasa perangkat lunak yang canggih. Proses ini disebut upscaling, dan inilah pahlawan tanpa tanda jasa di balik klaim besar tersebut.

Bukan Render Native, Tapi Hasil AI yang Cerdas

Kunci utamanya adalah teknologi bernama PlayStation Spectral Super Resolution (PSSR). Ini adalah sistem peningkatan gambar berbasis kecerdasan buatan yang diakselerasi oleh perangkat keras khusus.

Cara kerjanya mirip dengan DLSS dari NVIDIA atau FSR dari AMD di dunia PC. PSSR dirancang khusus untuk ekosistem konsol ini.

Prosesnya dimulai dengan gambar yang di-render pada resolution yang lebih rendah, misalnya 4K. Kemudian, unit AI khusus menganalisis frame tersebut.

Jaringan neural yang telah dilatih sebelumnya secara cerdas menebak dan menambahkan detail yang hilang. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah frame baru pada resolusi yang jauh lebih tinggi.

Hasil akhirnya adalah sinyal keluaran yang dikirim ke display Anda. Teknologi ini sangat efisien sehingga prosesnya hampir tidak menambah latensi yang terasa.

Inilah mengapa istilah “8K” di sini lebih tepat merujuk pada output akhir. Bukan pada proses rendering internal yang dilakukan oleh game itu sendiri.

Pendekatan ini adalah solusi pragmatis yang brilian. Daripada memaksakan tenaga kasar untuk merender setiap piksel, konsol menggunakan kecerdasan untuk menyiasati batasan fisiknya.

Perbandingan Resolusi: 4K, 6K, atau “Sedikit di Atas 4K”?

Lalu, pada resolusi berapa sebenarnya game-game itu di-render sebelum ditingkatkan? Data dari para pengembang mengungkapkan angka yang beragam.

Seorang developer engine untuk No Man’s Sky mengonfirmasi bahwa mode khususnya melakukan render pada “sedikit di atas 4K”. Itu berarti sekitar 2700p, sementara 4K standar adalah 2160p.

Berikut adalah perbandingan konkret dari beberapa judul yang mendukung fitur ini:

  • No Man’s Sky: ~2700p (jauh di bawah 4320p).
  • F1 24: Mendekati resolusi 4K penuh (2160p).
  • The Callisto Protocol: Menggunakan resolusi dinamis yang dapat mencapai hingga 6K, tergantung kompleksitas adegan.

Perhatikan bahwa angka 2700p untuk No Man’s Sky masih sangat jauh dari definisi asli resolusi ultra tinggi. Ini menunjukkan betapa besarnya peran teknologi upscaling.

Ada kasus menarik untuk dibandingkan. Ori and the Will of the Wisps di Xbox Series X justru melakukan sebaliknya: merender di 6K, lalu menurunkan skalanya ke 4K untuk output.

Strategi itu bertujuan untuk mendapatkan kualitas gambar yang lebih bersih. Sementara di konsol terbaru ini, logikanya terbalik: render lebih rendah, lalu naikkan skalanya setinggi mungkin.

Perbedaan pendekatan ini menyoroti sebuah poin penting. Dalam konteks konsol saat ini, klaim resolusi lebih tentang kemampuan upscaling yang canggih.

Bukan tentang kekuatan mentah untuk mendorong puluhan juta piksel asli setiap detiknya. Pemahaman ini membantu kita menata ekspektasi dengan lebih realistis.

Lalu, pertanyaan logisnya muncul: jika sumbernya bukan native, apakah difference atau perbedaannya dengan gambar 4K biasa masih benar-benar terlihat oleh mata kita?

Apakah Perbedaan 8K dan 4K Benar-Benar Terlihat?

perbedaan visual 8K vs 4K

Debat tentang manfaat resolusi ultra tinggi telah berlangsung lama. Namun kini ada kesaksian langsung dari orang yang terlibat.

Setelah memahami cara kerja upscaling, pertanyaan besarnya adalah: apakah hasilnya benar-benar memberi pengalaman baru? Atau hanya angka di spesifikasi saja?

Kesaksian Developer: “Langkah Visual yang Sangat Terlihat”

Martin Griffiths, seorang programmer engine dari Hello Games, punya jawaban yang jelas. Ia terlibat langsung dalam pengembangan patch untuk judul eksplorasi antariksa.

Griffiths menyatakan, “Saya menemukannya sebagai peningkatan visual yang sangat terlihat. Bahkan ‘hanya’ dengan PSSR dan sumber yang sedikit di atas 4K, yang menggerakkan output display akhir.”

Pernyataannya ini menarik karena menantang narasi umum. Banyak yang beranggapan bahwa difference antara 4320p dan 2160p hampir tidak kasat mata.

Ia melakukan pengujian pada sebuah panel LCD Samsung QN700C berukuran 55 inci. Ukuran ini jauh dari layar raksasa yang sering disarankan.

Pengalamannya menunjukkan bahwa dengan tvs yang tepat, peningkatan itu bisa dirasakan. Terutama dalam konteks interaktif.

Batasan Mata Manusia dan Ukuran Layar

Di sisi lain, ada batasan fisiologis yang perlu diakui. Mata manusia memiliki resolusi terbatas.

Dari jarak menonton normal, membedakan setiap pikindividual pada layar berukuran sedang memang sulit. Apalagi jika sinyalnya bukan native.

Teori menyebutkan, untuk benar-benar melihat keuntungan penuh resolusi sangat tinggi, Anda perlu duduk sangat dekat. Atau memiliki layar yang sangat besar.

Berikut adalah panduan umum tentang persepsi visual berdasarkan ukuran panel dan jarak:

Ukuran Layar (Diagonal)Jarak Menonton Ideal untuk 4KJarak untuk Membedakan 8K NativeKemungkinan Membedakan Upscaled 8K
55 inci1.1 – 1.7 meterKurang dari 0.8 meterSubjektif, bergantung kualitas upscaling
65 inci1.3 – 2 meterKurang dari 1 meterMungkin terlihat pada jarak dekat
75 inci1.5 – 2.3 meterKurang dari 1.1 meterLebih mungkin untuk terlihat
85 inci ke atas1.7 – 2.6 meter1.2 – 1.7 meterPerbedaan paling potensial untuk teramati

Inilah mengapa manfaatnya banyak diragukan di industri film. Konten Hollywood berjalan pada 24 fps yang rendah.

Namun, konteks gaming sangat berbeda. Sebuah game berjalan pada 30, 60, atau bahkan 120 frame per detik.

Pergerakan yang lebih halus dan seringnya interaksi dari jarak dekat bisa membuat peningkatan detail lebih terasa. Otak kita memproses informasi visual dengan way yang berbeda saat kita aktif bermain.

Pada akhirnya, persepsi bersifat sangat pribadi. Ia bergantung pada banyak faktor.

Faktor itu mencakup ukuran layar, jarak bermain, kualitas algoritma upscaling, dan bahkan ketajaman penglihatan individu.

Kesaksian developer memberi satu sudut pandang yang valid. Teori batasan mata memberi sudut pandang lain.

Cara terbaik adalah mencoba sendiri jika ada kesempatan. Lihatlah dengan mata kepala sendiri dan putuskan apakah peningkatan itu berarti untuk Anda.

TV 8K Lainnya: Mana Saja yang Benar-Benar Kompatibel?

Lanskap perangkat layar 8K ternyata tidak seragam, terutama dalam hal dukungan untuk teknologi kompresi kunci. Setelah melihat paradoks dengan model flagship lama, penting untuk memetakan pilihan lain.

Kompatibilitas penuh bergantung pada model dan tahun rilis yang spesifik. Memiliki port hdmi 2.1 saja tidak cukup. Perangkat harus memiliki firmware yang memahami protokol kompresi tertentu.

Berikut adalah gambaran cepat kompatibilitas beberapa merek utama:

Merek TVDukungan DSC untuk 8KModel yang Dikonfirmasi KompatibelCatatan Penting
SamsungLuas dan TerbaikQN990F, QN900F, QN900D, QN800D, QN900C, QN800CPilihan paling aman dan memiliki jajaran model terluas.
LGTerbatas pada Seri TertentuSeri OLED 8K ZX dan yang lebih baru (mis., Z3, Z2)Model LCD flagship 8K sebelumnya (Nano99) tidak mendukung.
SonySangat TerbatasHanya Z9K (model 2022) dan kemungkinan yang lebih baruModel sebelumnya seperti Z9J tidak kompatibel, seperti dibahas.
Merek Lain (TCL, Hisense, dll.)Minim atau Tidak AdaBervariasi, sangat jarangBanyak yang mundur dari pasar atau belum masuk secara signifikan.

Samsung: Raja Kompatibilitas DSC

Samsung saat ini adalah pemimpin yang jelas. Merek ini menawarkan support dsc paling luas di berbagai lini produknya.

List model yang kompatibel mencakup seri QN990F, QN900F, QN900D, QN800D, QN900C, dan QN800C. Ini berdasarkan konfirmasi resmi dari pabrikan.

Jika Anda serius ingin mencoba fitur resolusi ultra tinggi dari konsol terbaru, Samsung adalah pilihan paling aman. Dukungannya yang konsisten meminimalkan risiko ketidakcocokan.

LG dan Brand Lain: Dukungan yang Terbatas

LG memiliki pendekatan yang lebih selektif. Hanya jajaran tvs OLED 8K terbaru, yaitu seri ZX dan di atasnya, yang memiliki support penuh.

Sayangnya, model LCD 8K andalan mereka yang lebih tua, Nano99, tidak dilengkapi dengan kemampuan ini. Ini menunjukkan bahwa kompatibilitas bisa berubah hanya dalam satu generasi.

Untuk merek lain seperti TCL atau Hisense, situasinya kurang jelas. Kehadiran mereka di segmen resolusi sangat tinggi masih singkat dan terbatas.

Beberapa bahkan telah mengurangi fokus mereka pada segmen ini. Selalu lakukan pengecekan mendalam sebelum membeli.

Bagaimana cara mengecek kompatibilitas selain dari spesifikasi di kertas? Carilah ulasan mendalam dari media teknologi terpercaya.

Anda juga bisa menghubungi langsung layanan dukungan pelanggan merek tersebut. Tanyakan secara spesifik tentang dukungan untuk teknologi kompresi aliran display.

Peringatan penting: Ingatlah bahwa rantai sinyal harus utuh. Jika Anda menggunakan receiver AV atau soundbar antara konsol dan display, perangkat itu juga harus mendukung DSC.

Jika tidak, sinyal akan terblokir. Tantangan teknis ini akan kita bahas lebih lanjut di bagian selanjutnya.

Tantangan Lain Selain DSC: HDMI 2.1, Capture Card, dan Artifak

Memasuki ekosistem gaming resolusi ultra tinggi ternyata membutuhkan lebih dari sekadar membeli dua perangkat utama. Ada serangkaian rintangan teknis yang tersembunyi di balik kabel dan port.

Rintangan ini sering kali baru terlihat saat semuanya sudah terpasang. Mereka bisa membuat investasi besar menjadi kurang optimal.

Mari kita kupas tantangan-tantangan praktis ini satu per satu. Dengan begitu, Anda bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Rantai Perangkat Harus Mendukung DSC

Bayangkan aliran signal video sebagai sebuah estafet. Setiap perangkat dalam rantai harus menerima dan meneruskan tongkat dengan cara yang sama.

Jika satu pelari menggunakan teknik yang berbeda, estafet itu gagal. Prinsip yang sama berlaku untuk teknologi kompresi canggih.

Dukungan untuk fitur ini harus ada di seluruh jalur. Mulai dari konsol, melalui kabel hdmi 2.1, hingga ke layar.

Bagaimana jika Anda menggunakan receiver audio atau soundbar? Perangkat itu juga harus memiliki support dsc yang aktif melalui port hdmi-nya.

Receiver lama yang hanya mendukung HDMI 2.0 tidak akan bisa meneruskan sinyal ini. Ia akan menjadi penghalang yang memutus komunikasi.

Akibatnya, konsol akan mendeteksi ketidakcocokan. Sistem kemudian secara otomatis menurunkan video keluaran ke resolusi 4K.

Ini adalah mekanisme pengaman. Tapi, ini juga berarti investasi Anda pada layar beresolusi sangat tinggi menjadi sia-sia untuk fitur ini.

Sebelum berkomitmen, pastikan Anda memeriksa spesifikasi setiap komponen. Ulasan dari sumber terpercaya seperti analisis mendalam tentang kompatibilitas DSC bisa sangat membantu.

Keterbatasan untuk Konten Kreator dan Potensi Latensi

Bagi para pembuat konten dan streamer, ada berita yang kurang menggembirakan. Teknologi ini menciptakan tantangan baru dalam perekaman.

Hingga akhir tahun 2024, bahkan capture card profesional kelas atas pun belum mendukung protokol kompresi aliran ini.

Apa artinya? Anda tidak bisa merekam atau melakukan siaran langsung gameplay dalam kualitas asli dari konsol terbaru.

Kartu penangkap akan melihat sinyal yang sudah “diterjemahkan” kembali ke 4K. Detail dan kejernihan maksimal hilang dalam proses perekaman.

Ini adalah issue serius bagi mereka yang bergantung pada konten visual terbaik. Solusi sementara mungkin harus menunggu update firmware atau perangkat keras baru.

Selain itu, meski diklaim sebagai kompresi yang tanpa kehilangan kualitas, ada potensi kecil untuk artefak visual.

  • Artefak: Dalam situasi tertentu, seperti transisi warna yang sangat halus atau pola geometris kompleks, bisa muncul noise atau distorsi kecil.
  • Kasus Tepi: Masalah ini jarang, tetapi mungkin terlihat oleh mata yang sangat teliti atau dalam konten statis.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah latensi. Menambahkan lapisan stream compression berarti ada proses encode dan decode.

Algoritme memang dioptimalkan untuk penundaan yang sangat rendah. Namun, dalam gaming kompetitif, setiap milidetik sangat berharga.

Penundaan ekstra ini mungkin tidak terasa saat menonton film. Tapi, saat bereaksi cepat dalam pertandingan online, bisa membuat perbedaan antara menang dan kalah.

Memasuki ekosistem ini berarti menerima kerumitan teknis. Anda harus siap dengan riset dan kemungkinan penyesuaian setup.

Tantangan-tantangan ini juga berkaitan dengan tren pasar yang lebih besar. Fokus industri mulai bergeser, seperti yang akan kita bahas selanjutnya.

Masa Depan Suram? Tren Pasar TV Beralih ke 4K High Refresh Rate

Apakah fitur resolusi ultra tinggi akan bertahan atau justru menjadi sekadar catatan kaki? Setelah membahas semua kompleksitas teknis, penting untuk melihat ke mana arah angin industri bertiup.

Lanskap perangkat layar terus berubah dengan cepat. Apa yang dianggap sebagai puncak teknologi beberapa tahun lalu, kini bisa kehilangan daya tariknya.

Ini bukan hanya tentang spesifikasi di atas kertas. Ini tentang apa yang benar-benar diinginkan dan dirasakan oleh konsumen di rumah.

Produksi 8K Menyusut, Fokus Beralih

Data dari pasar global menunjukkan tren yang jelas. Lebih sedikit model display baru dengan panel 4320p yang diluncurkan pada tahun 2024 dibandingkan puncaknya di sekitar tahun 2020.

Kebaruan dari resolusi ini tampaknya mulai memudar. Salah satu penyebab utamanya adalah biaya produksi panel yang tetap sangat tinggi.

Membuat layar dengan empat kali lipat piksel dari 4K membutuhkan presisi dan teknologi mahal. Harga jual akhir pun menjadi tidak terjangkau bagi kebanyakan rumah tangga.

Akibatnya, beberapa pabrikan besar mengambil langkah strategis. Sony, misalnya, dilaporkan telah menghentikan sementara lini TVs 8K-nya untuk fokus pada segmen lain.

Ke mana fokus pasar berpindah? Jawabannya adalah ke TVs 4K dengan refresh rate tinggi.

Konsumen dan produsen kini lebih tertarik pada layar yang dapat menampilkan 120Hz, 144Hz, bahkan 240Hz. Kelancaran gerak dalam adegan cepat menjadi nilai jual yang lebih terasa.

Teknologi panel seperti Mini-LED dan OLED yang lebih cerah juga mendapatkan perhatian lebih. Keduanya menawarkan kontras yang menakjubkan dan warna yang hidup.

Peningkatan ini seringkali lebih mudah dilihat oleh mata daripada sekadar menambah jumlah piksel. Bagi banyak orang, difference atau perbedaan antara 4K dan 8K pada ukuran layar rumahan sulit sekali dibedakan.

Duduk dalam jarak normal, mata manusia memiliki batasan. Permintaan pasar pun secara alami bergeser ke hal yang memberikan pengalaman lebih nyata.

PS6: Akankah 8K Akhirnya Menjadi Mainstream?

Lalu, bagaimana dengan masa depan gaming pada resolusi ini? Martin Griffiths, developer yang kami sebut sebelumnya, memberikan secercah harapan.

Ia berpendapat bahwa 4320p mungkin akan menjadi lebih mainstream saat era PlayStation Pro generasi berikutnya tiba. Konsol berikutnya diperkirakan akan dirilis sekitar tahun 2026 atau 2027.

Harapannya adalah daya komputasi yang jauh lebih besar akan membuat rendering pada resolusi penuh menjadi lebih layak. Namun, harapan ini harus diseimbangkan dengan realitas pasar.

Tren industri justru sedang menjauhi resolusi ultra tinggi untuk fokus pada hal lain. Masa depan gaming 8K di console masih menjadi tanda tanya besar.

Ada kemungkinan kuat bahwa konsol masa depan akan memilih jalan berbeda. Fokusnya mungkin pada pengalaman 4K yang disempurnakan.

Misalnya, ray tracing yang lebih konsisten dan realistis. Atau frame rate yang sangat tinggi di atas 120 fps untuk responsivitas maksimal.

Teknologi seperti path tracing juga bisa menjadi prioritas. Alih-alih mengejar angka piksel, mereka mungkin mengejar kualitas cahaya dan simulasi fisik yang belum pernah ada sebelumnya.

Ini membawa kita pada poin penting. Fitur 8K pada ps5 pro mungkin datang sedikit terlambat.

Momentum pasar sudah bergerak ke arah lain. Nilai investasi jangka panjang untuk setup khusus ini perlu dipertanyakan.

Dengan semua kompleksitas dan ketidakpastian ini, apakah fitur ini masih layak dipertimbangkan sebagai nilai jual utama? Mari kita renungkan sebelum mengambil keputusan.

Nilai untuk Uang: Apakah Fitur 8K PS5 Pro Layak Diperhitungkan?

Setelah memahami semua tantangan teknis, kini saatnya menimbang manfaat nyata bagi dompet dan pengalaman bermain. Dengan harga sekitar $700, konsol ini menawarkan peningkatan signifikan. Namun, fitur resolusi ultra tingginya membutuhkan evaluasi khusus.

Apakah kompromi yang diperlukan sepadan dengan hasilnya? Mari kita bahas dari dua sudut pandang praktis.

Kompromi yang Harus Dibayar: Ray Tracing vs Resolution

Dalam dunia gaming, hampir selalu ada pertukaran. Untuk mencapai target performa tinggi, efek visual tertentu harus dikurangi. Fitur resolusi ekstrem pada varian ini adalah contoh sempurna.

Gran Turismo 7 harus mematikan ray tracing sepenuhnya untuk mencapai 60 fps. Padahal, refleksi dan bayangan realistis itu sangat terlihat. Peningkatan dari 4K ke 8K justru kurang mencolok dibandingkan kehilangan efek cahaya canggih.

Judul lain seperti The Callisto Protocol mengambil jalan berbeda. Ia mempertahankan ray tracing di mode khususnya, tetapi hanya di 30 fps. Di sini, pilihannya adalah antara visual detail atau kelancaran gerak.

Kompromi ini muncul karena keterbatasan perangkat keras. Sebuah PC gaming yang benar-benar tangguh untuk tugas ini bisa berharga mulai $5.000. Mustahil mengharapkan kinerja serupa dari console seharga sepersepuluhnya.

Intinya, difference atau perbedaan yang dirasakan seringkali bukan pada jumlah piksel. Kualitas cahaya, bayangan, dan fluiditas gerak justru lebih berdampak pada pengalaman immersif.

Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Ini?

Fitur ini jelas tidak ditujukan untuk semua orang. Ia memiliki pasar niche yang spesifik. Kelompok pertama adalah early adopter yang sudah memiliki layar kompatibel.

Mereka ingin memaksimalkan investasi besar pada perangkat televisi mutakhir. Bagi mereka, kemampuan output ini adalah nilai tambah yang menyenangkan.

Kelompok kedua adalah penggemar teknologi yang penasaran. Mereka ingin merasakan sendiri batasan dan kemampuan terbaru. Eksperimen ini adalah bagian dari hobi mereka.

Lalu, bagaimana dengan mayoritas gamer di Indonesia? Kebanyakan masih menggunakan televisi 4K. Bagi mereka, peningkatan utama justru ada di pengalaman bermain standar.

Games akan berjalan lebih mulus di mode Performance. Atau, mereka bisa menikmati ray tracing yang lebih baik di mode Fidelity. Keduanya terjadi pada resolution 4K yang lebih terjangkau.

Oleh karena itu, nilai uang dari konsol ini tidak boleh dinilai dari fitur 8K-nya saja. Ia adalah mesin yang hebat untuk gaming 4K yang lebih baik. Dukungan untuk resolusi lebih tinggi hanyalah bonus yang masih prematur.

Meski demikian, tetap mengesankan bahwa sebuah console dengan harga terjangkau bisa menawarkan ini. Ini adalah pencapaian rekayasa perangkat lunak yang patut diacungi jempol.

Nasihatnya sederhana. Jangan jadikan fitur ini sebagai alasan utama membeli ps5 pro. Lihatlah peningkatan keseluruhan yang dibawanya untuk library game favorit Anda di layar yang ada.

Dengan begitu, keputusan pembelian akan lebih bijak dan berbasis kebutuhan nyata.

Kesimpulan: Antara Pencapaian Teknis dan Realita Pasar

Sebagai penutup, mari kita renungkan pencapaian dan kenyataan di balik klaim resolusi ekstrem ini. PlayStation Pro memang bisa menghasilkan output 8K berkat teknologi DSC dan PSSR. Ini adalah pencapaian teknis yang mengesankan untuk sebuah konsol.

Namun, syaratnya banyak. Daftar permainan pendek dan hasilnya adalah upscaling. Paradoks Sony Z9J menunjukkan ekosistem belum siap.

Realita pasar justru bergerak ke TVs 4K dengan refresh rate tinggi. Fitur 8K di ps5 pro lebih merupakan bonus daripada kebutuhan utama.

Jika Anda sudah punya layar dengan support lengkap, cobalah. Jika tidak, jangan jadikan ini alasan utama membeli. Masa depan gaming konsol lebih cerah di jalur 4K yang diperkaya, bukan mengejar angka 8K.

➡️ Baca Juga: Game Eksklusif PS5 yang Dibatalkan 70% Jadi, Alasannya Mengejutkan Banget!

➡️ Baca Juga: CPU-Z Overclock Snapdragon 410 Tanpa Root Lewat Developer Options, Kok Bisa?

Related Articles

Back to top button