slot deposit qris depo 10k
bisnis

BPS Mengumumkan Emas Deflasi Maret 2026 Setelah 30 Bulan Inflasi Berkelanjutan

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengumumkan bahwa komoditas emas mengalami deflasi pada bulan Maret 2026. Ini merupakan perubahan signifikan setelah 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi.

“Setelah mengalami inflasi selama dua setengah tahun, kini emas telah mencatatkan deflasi,” ungkap Ateng dalam konferensi pers virtual yang diadakan pada Rabu, 1 April 2026.

Ateng menjelaskan bahwa deflasi emas pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,17 persen dalam perbandingan bulanan (month-to-month/mtn), dengan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.

Dengan deflasi ini, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan kontribusi deflasi terbesar dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kontribusi deflasi mencapai 0,37 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menjadi salah satu penyumbang utama deflasi pada Maret 2026, dengan total deflasi sebesar 0,21 persen dan kontribusi deflasi sebesar 0,01 persen.

BPS mencatat bahwa tingkat deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya di bulan Maret 2026 adalah yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Di sisi lain, inflasi bulanan pada Maret 2026 tercatat mengalami penurunan menjadi 0,41 persen (mtm) dari 0,68 persen (mtm) yang tercatat pada bulan Februari 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami peningkatan, dari 110,57 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026.

Kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi mencapai 1,07 persen dan andil inflasi sebesar 0,32 persen.

Komoditas utama yang mendorong inflasi dalam kelompok pengeluaran ini meliputi ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi.

Di samping itu, beberapa komoditas juga masih memberikan kontribusi deflasi pada Maret 2026, termasuk tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing dengan kontribusi 0,03 persen.

Secara tahunan, perekonomian Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 3,48 persen (year-on-year/yoy). Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,94 persen secara year-to-date (ytd).

➡️ Baca Juga: IHSG Melonjak 2,53% Menjadi 8.122, Investor Asing Kembali Berinvestasi

➡️ Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar Kandidat Tuan Rumah Piala Asia 2031 Menurut AFC

Related Articles

Back to top button