Jakarta – Tahun 2016 yang lalu memiliki makna sangat penting bagi perkembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia, dimana tahun tersebut dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Sumber Daya Manusia Indonesia.

Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad P.Hd mengatakan, “Setidaknya ada enam tugas khusus yang dimandatkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pertama, Membuat peta jalan pengembangan SMK, Kedua, Menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai pengguna lulusan(link and match), Ketiga, Meningkatkan jumlah dan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan SMK, Keempat, Meningkatkan kerjasama dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dunia usaha/industri, Kelima, Meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK, dan Keenam, Membentuk Kelompok Kerja Pengembangan SMK.”

“Kegiatan ini juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Inpres No 9 tahun 2016 tersebut, pada kesempatan ini akan dilakukan diskusi untuk mencari solusi bagaimana mengatasi pengangguran lulusan SMK yang melibatkan Kementerian/lembaga, Dunia Usaha/Industri, praktisi pendidikan dan pegiat SMK.” Tambah Hammid.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang, naik 2,95 juta orang dibanding Agustus 2017. Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,59 persen poin. Dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 40 ribu orang, sejalan dengan TPT yang turun menjadi 5,34 persen pada Agustus 2018. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 11,24 persen.

Menanggapi pemberitaan yang sedang marak bahwa pengangguran didominasi oleh SMK maka perlu adanya solusi dan dengankehadiran era revolusi industri 4.0, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus mampu melihat peluang dapat menempatkan lulusannya pada sektor-sektor yang dapat menyerap tenaga kerja besar serta medorong tercipta Perkembangan industri berbasis digital harus dapat di-capture dengan baik oleh SMK. Sehingga SMK mampu melakukan adaptasi pada 4 komponen yaitu (1) pre-kondisi dari siswa SMK, (2) kualitas pengajar SMK khususnya guru produktif, (3) tata kelola sekolah dan (4) good governance.

Sumber: www.psmk.kemdikbud.go.id 

Categories: News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.