Jakarta, Mataair.or.id – Pada 2018 Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) melakukan akredatasi secara nasional. Dari seluruh sekolah yang diakreditasi mayoritas mendapatkan nilai B. Ini artinya masih banyak persoalan sekolah baik terkait dengan tenaga pendidik maupun sarana dan prasarana.

Hal ini mengemuka dalam diskusi publik tentang hasil akreditasi nasional 2018 di Kantor Kemendimbud Jakarta (14/12/18). Kepala BAN-S/M Toni Toharudin mengatakan bahwa sampai dengan bulan Desember terdapat 51.979 unit sekolah yang terakreditasi. Sebanyak 17.695 (34.04%) merupakan sasaran baru dan 34.284 (65.96%) sekolah reakreditasi.

Secara keseluruhan menurut Toni hampir mayoritas mendapatkan nilai B untuk jenjang SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan SMK. Ini menunjukkan bahwa standar pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) serta sarpras harus menjadi perhatian bersama. Sebab untuk jenjang SD/MI dibawah nilai rata-rata standar baik untuk sekolah dengan sasaran baru maupun reakreditasi. Capaian untuk PTK di sekolah sasaran baru 71,7 dan sarpras 69,7. Untuk sekolah reakreditasi capaian PTKnya 81 dan sarpras 76,4.

“Tingkat pemenuhan standar yang rendah pada PTK dan sarpras baik untuk jenjang SD maupun MI disebabkan salah satunya karena masalah rendahnya kepemilikan tenaga perpustakaan yang memenuhi kualifikasi dan rendahnya guru yang memiliki sertifikat pendidik,” paparnya.

Caparian rata-rata di bawah standar juga terjadi di tingkat SMP/MTs. Tingkat SMP sasaran baru capaian PTK-nya 66,5 dan sarpras 69,4. Sedangkan sekolah reakreditasi capaian PTK 76,8 dan sarpras 82,2.

Menurut Toni penyebab rendahnya capaian di SMP ini sama dengan SD karena salah satunya karena sertifikasi dan juga ruang perpustakaan yang luas dan sarana tidak sesuai ketentuan.

tidak jauh dari capaian SD dan SMP, jenjang SMA/MA, rata-rata standar PTK dan sarpras dibawah nilai rata-rata standar, baik untuk sekolah dengan kategori sasaran baru maupun re-akreditasi. Misalnya, jenjang SMA sasaran baru capaian pemenuhan standar PTK sebesar 69,5 dan sarpras sebesar 69. Demikian juga dengan sekolah re-akreditasi capaian pemenuhan standar PTK sebesar 80,8 dan sarpras sebesar 83,8.

Setelah memaparkan hasil dari akreditasi Toni memberi masukan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah dan stakeholders untuk merumuskan kebijakan fokus pada pelaksanaan program terhadap rendahnya pemenuhan standar PTK dan sarpras. Misalnya pemerintah meningkatkan partisipasi guru dalam program sertifikasi.

Terkait dengan sarana dan prasarana Toni berharap pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk menambah lahan. Kemduian, sehubungan dengan belum meratanya akses akreditasi pada daerah-daerah terpencil, pemerintah perlu membuat kebijakan afirmasi dengan memberikan perhatian lebih pada daerah 3T dan Non 3T. Selama ini, banyak s/m di daerah-daerah yang tidak tersentuh oleh akreditasi karena faktor alam, teknis dan pembiayaan.

Perlu diketahui hasil akreditasi nasional pada SD/MI peringkat A sebesar 19,77%, B sebesar 61,62%, C 16,03%, dan Tidak Terakreditasi (TT) sebesar 2,58% dari 35,903 unit yang diakreditasi. Lalu jenjang SMP/MTs peringkat A 20,85%, B (40,49%), C (32,20%) dan TT (6,46%) dari 10,022 s/m yang diakreditasi. Lalu SMA/MA peringkat A (27,29%), B (40,10%), C (27,10%) dan TT (5,51%) dari 4,122 s/m yang diakreditasi. Jenjang SMK peringkat A (18,06%), B (47,20%), C (28,16%) dan TT (6,57%) dari 1,932 Sekolah yang diakreditasi. (ktm/mataair)

Categories: News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.