Korban yang terjebak akibat banjir bandang di kawasan perbatasan Tibet-Nepal terus bertambah. Hingga tanggal 31 Agustus 2026, jumlah korban jiwa telah mencapai lebih dari 900 orang, dengan lebih dari 4.800 orang masih dilaporkan hilang. Tim penyelamat saat ini masih berusaha keras untuk menemukan para pekerja yang diyakini terjebak di 12 lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Dalam upaya pencarian ini, sejumlah tim internasional juga turut membantu petugas lokal untuk menemukan pekerja yang mungkin terperangkap di dalam beberapa terowongan proyek PLTA di Nepal. Mohan Kumar Dangi, Presiden Independent Power Producers Association of Nepal (IPPAN), menyatakan bahwa banjir tersebut telah merusak setidaknya 12 proyek pembangkit listrik di Distrik Rasuwa dan Nuwakot, dengan sekitar 919 orang dilaporkan hilang dari lokasi proyek yang terkena dampak.
Sebelumnya, para pejabat setempat memberikan berbagai estimasi mengenai jumlah pekerja yang terjebak di lokasi bencana.
Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, juru bicara Angkatan Darat Nepal, mengungkapkan, “Kami terus berupaya mencari dan menyelamatkan individu yang terjebak di perbukitan, pemukiman, dan sepanjang kawasan sungai.”
Badan penanggulangan bencana Nepal melaporkan bahwa pada hari Senin, sebanyak 919 orang telah kehilangan nyawa mereka akibat bencana tersebut. Selain itu, 4.800 orang masih dalam pencarian, termasuk 592 di antaranya adalah warga negara asing.
Sementara itu, otoritas China melaporkan bahwa 16 orang telah meninggal dunia dan 546 lainnya masih hilang akibat bencana yang sama. Media pemerintah China juga mencatat bahwa 261 dari mereka yang hilang adalah warga negara asing, termasuk lebih dari 100 warga Nepal.
Sejumlah pekerja yang tengah membersihkan puing-puing dari pembangkit listrik yang rusak akibat banjir di Dhading, Nepal, menyampaikan kepada media bahwa fasilitas tersebut sangat krusial dalam menyediakan listrik bagi lebih dari 20.000 penduduk di daerah itu.
Para pekerja yang terlibat dalam proses pembersihan berharap bahwa fasilitas tersebut tidak akan dibangun kembali terlalu dekat dengan sungai. Saat ini, upaya penyelamatan difokuskan pada individu yang diduga terjebak di dalam terowongan besar yang dirancang untuk mengatur aliran air demi menghasilkan energi dari sumber air.
“Terowongan tersebut dibangun untuk memudahkan akses ke infrastruktur pembangkit listrik tenaga air serta mengalihkan aliran air. Ini adalah langkah penting dalam proses produksi energi. Ukuran terowongan cukup besar untuk dilalui truk, dan di dalamnya ada ruang yang cukup untuk berlindung dengan aman. Berdasarkan informasi yang kami terima, oksigen telah berhasil dialirkan kepada beberapa orang yang terjebak di dalam, dan upaya penyelamatan sedang berlangsung. Namun, waktu sangat mendesak karena mereka memerlukan makanan dan air,” jelas seorang ahli geosains dari University of Graz, Austria, yang kini berada di Dhaka.
➡️ Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Pencernaan untuk Aktivitas Harian yang Nyaman dan Stabil
➡️ Baca Juga: Mikel Arteta: Final Carabao Cup Memperkuat Mental Arsenal dalam Upaya Meraih Trofi Musim Ini

