News

Lulusan Perguruan Tinggi Melimpah tapi Perusahaan Sulit Dapat Tenaga Kerja, Apa Penyebabnya?

Jakarta, iyf.or.id-Merujuk pada hasil studi yang dilakukan Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 yang dipublikasi pada Maret 2016 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi siap pakai.

Sebelumnya pada April 2016 hal yang sama pernah juga diungkap oleh Lilis Halim, Consultant Director Willis Tower Watson Indonesia dikutip dari kompas.com.

“Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Namun, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” ujarnya.

Padahal jika berkacara pada lulusan perguruan tinggi di Indonesia tiap tahunnya selalu bertambah. Belum lagi lulusan vokasi yang benar-benar dipersiapkan untuk siap bekerja juga cukup banyak.

Jika merujuk data dari yang pernah dikemukakan Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kerja, Kemanker RI, setidaknya lulusan sarjana perguruan tinggi nasional mencapai 750-800 ribu orang. Lantas jumlah permintaan tenaga kerja jauh lebih rendah dari lulusan perguruan tinggi, maka seharusnya perusahan tidak kesulitan mendapatkan tenaga kerja siap pakai. Lantas apa sebenarnya yang terjadi?

Salah satu yang menjadi diindikasinya adalah skill yang dimiliki oleh lulusan perguruan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. artinya selama pendidikan kurikulum yang diajarkan tidak sesuai dengan konteks kebutuhan industri saat ini.

Hal inipun mendapat komentar dari pengemat pendidika Arief Rahman. “Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab (dari swasta) kami jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa,” ujar dia.

Menghadapi persoalan ini tentu kampus harus cepat tanggap. Salah satu langkah yang tepat adalah mencoba melakukan transisi kurikulum dengan melakukan kerjasama dengan pihak industri. Ingat bahwa di satu sisi kampus harus menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berharap bisa langsung diserap oleh industri. Di sisi yang lain industru butuh tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan yang itu bisa dipasok oleh perguruan tinggi.

Salah satu kampus yang sudah mulai mengambil langkah maju terkait hal ini adalah Universitas Prasetya Mulya. Kepala Program Studi S1 Renewable Energy Engineering Universitas Prasetiya Mulya, Indra Buana mengatakan, pihaknya juga secara berkelanjutan terus memperbaharui kurikulum yang ada di jurusannya.

Beberapa langkah yang coba diterapkan seperti, lebih dini mengenalkan kepada mahasiswa kebutuhan industri pada masa kini dengan memberlakukan magang 2 kali kepada mahasiswa. Selain itu, pihak kampus juga sering mengundang pihak industri sebagai dosen tamu. Harapannya pihak industri memberikan wawasan terkait kondisi paling up date dari dunia industri.

Langkah lainnya adalah penerapan Project Based Learning. Tugas yang diberikan kepada mahasiswa yang langsung praktik di lapangan. Ini akan memberikan pengalaman, wawasan serta ide-ide baru kepada mahasiswa.

Selain itu, salah satu indikator lain kenapa industri sulit mendapatkan tenaga kerja adalah karena lulusan perguruan tinggi yang memilih-milih pekerjaan. Artinya mereka menunda untuk bekerja sampai benar-benar mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi. Artinya banyak lulusan perguruan tinggi menunda untuk bekerja, padahal dunia industri butuh lulusan perguruan tinggi. (ktm/iyf)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.