News

Kembangkan Pendidikan Vokasi, Pesantren Bisa Belajar dari Jerman

Jakarta, iyf.or.id – Sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren di tuntut bisa terus relevan dengan perkembangan zaman. Pesantren dituntut tidak hanya fokus di wilayah pendidikan agama tapi juga mengembangkan pendidikan berbasis ketrampilan dan kewirasusahaan.

Pendidikan berbasis ketrampilan dan kewirausahaan diharapkan menjadi nilai lebih lulusan pesantren. Masa depan lulusan pesan tidak hanya diasosiasikan dengan ustad atau kiyai, tapi punya prospek yang lebih beragam seperti ahli IT, pengusaha, ahli otomotif, dll.

Menurut pemerhati pendidikan Yusron Hadi, pesantren harus mulai membuka diri dengan perkembangan zaman. Pendidikan agama saja tidak cukup. Pesantren harus berani membuat terobosan kurikulum tambahan agar lulusan pesantren bisa berkarya di berbagai bidang.

“Di era sekarang, pesantren tidak cukup hanya fokus di wilayah keagamaan. Pesantren harus mulai membuka diri terhadap pentingnya penguasaan keahlian dan ketrampilan tertentu. Ini sangat penting menghadapi persaingan yang semakin global. Keunggulan agama saja tidak cukup, diperlukan keahlian lain yang sesuai dengan tuntutan zaman”

Pengembangan pendidikan vokasi atau kejuruan bisa jadi pilihan tepat buat pesantren.

“Ya sekarang lulusan pesantren pun harus menguasai ketrampilan tertentu. Ilmu agama memang penting karena itu merupakan identitas dari pesantren. Namun di era sekrang menuntut kualitas sumber daya manusia.  Penguasaan ketrampilan tertentu menjadi sangat penting”

Namun, Yusron mengakui bahwa usaha pengembangan pendidikan kejuruan atau vokasi di pesantren tidaklah mudah. Banyak kendala yang dihadapi pesantren seperti, kurikulum yang masih belum sesuai, tenaga pendidik yang masih minim, dan masih minimnya sarana dan prasarana praktik.

Sebenarnya pengembangan pendidikan vokasi pesantren bisa belajar dari Negara Jerman. Di Eropa, Jerman dikenal sebagai salah satu Negara yang berhasil kembangkan pendidikan vokasi.

Menurut Direktur Senior Pusat Pelatihan Pendidikan Vokal Profesional Thomas Leubner dikutip dari okezone.com, setidaknya ada empat prinsip dalam pengembangan pendidikan vokasi. Pertama, kuatkan kerjasama pemerintah dan dunia industri. Pemerintah dan industri bertanggung jawab menyusun dan mendisain kerangka pendidikan vokasi.

Kedua, adanya penerapan standar nasional. Kualitas pendidikan sekolah kejuruan terjamin dengan diterapkannya standar pendidikan dan dipatuhi secara nasional sebagai acuan proses.

Ketiga, para tenaga pendidik kejuruan harus menguasai dan memahami konsep pedagogik kejuruan. Bukan hanya suatu konsep yang dimiliki oleh dunia pendidikan, akan tetapi dunia industri juga senantiasa menggunakan dan mengembangkan konsep pedagogik.

Keempat, ketersediaan institusi penelitian yang melibatkan instansi pendidikan, pelaku industri, dan element masyarakat lainnya. Hal ini untuk mendorong pendidikan kejuruan mengetahui apa yang sedang berkembang di dunia industri, dan agar kebutuhan dunia industri atau dunia usaha terhadap kompetensi lulusan pendidikan kejuruan dapat secara dini diidentifikasi

Jerman memang menjadi salah satu rujukan pemerintah Indonesia mengembangkan pendidikan vokasi. Pada 2016 Presiden Jokowi melakukan Kunjungan Ke Jerman. Salah satu agendanya  meminta Pemerintah Jerman membantu Indonesia dalam penguatan pendidikan vokasi. (ktm/iyf)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.