News

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Menperin Genjot Kualitas Pendidikan Vokasi

Jakarta, iyf.or.id – Kemenperin bertekad prioritaskan program kerja pada peningkatan kualitas  pendidikan vokasi. Bahkan Kemenperin menjanjikan kenaikan dua kali lipat. Harapannya peningkatan kualitas dan kapasitas pendidikan vokasi dapat menopang lima sektor prioritas dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Hal ini disampaikan Airlangga Hartarto melalui keterangan resminya, selasa (21/8). Airlangga menilai prioritas peningkatan sumber daya manusia sudah sesuai dengan peta jalan revolusi industri 4.0. Kemenperin memastikan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk memperbanyak tenaga kerja terampil yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktifitas dan daya saing nasional.

Dikutip dari tirto.id, Airlangga mengatakan prioritas Kemenperin sudah sesuai dengan arahan presiden dan RAPBN 2019. “RAPBN 2019 akan difokuskan pada pembangunan sumber daya manusia, seperti melalui pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match dengan industri” kata Airlangga.

Airlangga berharap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan vokasi, masyarakat lebih siap menghadapi revolusi industri 4.0 yang menuntut kualitas.

Lebih lanjut Airlangga mengungkapkan pemerintah telah meningkatkan anggaran Rp487,8 triliun untuk sektor pendidikan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yaitu 38,1 persen dari tahun 2014.

Rincian anggaran sebesar itu untuk merealisaikan beberapa program yang sudah direncanakan pemerintah, seperti membangun 1.047 ruang praktik SMK dan bantuan program sertifikasi 3.000 mahasiswa.

Selain itu, pemerintah akan mengawal program vokasi yang lebih masif dan terintegrasi lintas kementerian, serta pembangunan sarana kelas dan laboratorium di 1.000 pondok pesantren.

Kemenperin sendiri telah mengajukan rencana anggaran 2019 ke DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Airlangga mengatakan anggaran sebesar itu untuk mengawal implementasi program prioritas kemenperin.

“Program yang akan kami laksanakan, antara lain pengembangan lima sektor industri prioritas yang ditetapkan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri melalui pendidikan vokasi, serta kegiatan santripreneur, dan penumbuhan wirausaha industri baru,” ujar Airlangga.

Airlangga juga mengklaim sampai saat ini ada 618 perusahaan yang terlibat dalam peningkatan pendidikan vokasi dengan menggandeng 1.753 SMK. Kemenperin juga mendorong percepatan industri berbasis sentra di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, hinggap Papua. Proyek tersebut dimulai pada 2022-2023.

Sebelumnya, pada 2017 dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match dengan Industri.

Peraturan ini berisi tentang pedoman bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam penyelenggaran pendidikan kejuruan yang link and match dengan inudstri. Sedangkan, bagi perusahaan untuk memfasilitasi pembinaan kepada SMK dalam mencetak tenaga kerja yang terampil dan kompeten.(ktm/iyf)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.