News

3 Kendala Pesantren Kembangkan Pendidikan Vokasi

Jakarta, iyf.or.id – Penguatan pendidikan vokasi semakin gencar di suarakan pemerintah terutama di pesantren. Pemerintah berharap adanya peran aktif pesantren perkuat pendidikan vokasi dengan mengusung konsep link and match antara sekolah menengah kejuruan, ketenagakerjaan, dan industri.

Namun, harus diakui ini bukan persoalan yang gampang. Banyak kendala yang harus dihadapi pesantren. Seperti yang diungkapkan Amizarisma Direktur Eksekutif IYF dalam forum diskusi internal di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/18).

“Banyak hal yang harus disiapkan pesantren berkaitan dengan pengembangan pendidikan vokasi, seperti kurikulum, tenaga pengajar, sarana dan prasarana praktik. Ketiga hal itu sekaligus menjadi kendala  selama ini”

Lebih lanjut Amizarisma menjelaskan bahwa pesantren selama ini lebih dikenal dengan kurikulum pendidikan agama, maka tidak mudah memasukkan kurikulum vokasi, butuh proses lebih lama mengenalkan kurikulum pendidikan vokasi yang terbilang konsep baru bagi pesantren.

“Sejak dulu pesantren dikenal kuat di pendidikan agama. Ini berlangsung puluhan tahun. Maka, butuh proses jika mau menerapkan kurikulum baru seperti pendidikan vokasi. Kurikulum vokasi sendiri juga tidak bisa asal comot, karena harus disusun sesuai dengan kebutuhan dunia industri” ujarnya.

Terkait tenaga pengajar, Amizarisma mengkui masih sedikitnya tenaga pengajar di pesantren yang punya sertifikasi atau kemampuan khusus vokasi. Ini menjadi kendala yang serius.

Selain itu, tidak kalah penting menyangkut sarana dan prasarana praktik. “Pendidikan vokasi membutuhkan laboratorium sebagai media praktik. Karena konsep pendidikan vokasi 30 persen teori dan 70 persen praktik”

Tapi amizarisma optimis bahwa semua kendala tersebut dapat diatasi dengan pro aktif pesantren. “Pesantren tidak boleh berdiam diri menunggu bola. Harus aktif menjalin komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak. Pesantren harus jemput bola” ujarnya.

Senada dengan Amizarisma, Ilham Rosyadi Direktur Program Yayasan Mataair mengatakan bahwa tiga hal yang menjadi tantangan dan kendala pendidikan vokasi, yaitu kurikulum, tenaga pengajar, dan fasilitas.

“Tiga kendala pengembangan pendidikan vokasi yaitu kurikulum, tenaga pendidik, dan laboratorium praktik. Tidak saja pesantren yang menghadapi kendala ini tapi juga pendidikan vokasi lainnya yang langsung di bawah kemendikbud maupun kemenristek.”

“Hasil identifikasi yang saya lakukan di beberapa SMK, beberapa kendala seperti berkaitan dengan kurikulum. Kurikulum pendidikan vokasi yang ada saat ini banyak tidak selaras dengan kebutuhan pasar. Kedua, masalah guru, kita kekurangan guru produktif. Ketiga, Sarana dan prasarana praktik. sarana praktik di sekolah keguruan saat ini tidak mendukung pelaksanaan program pendidikan vokasi.”

Di akhir diskusi, Amizarisma mengingatkan bahwa pesantren harus memanfaatkan momentum. “Pesantren harus segera merespon komitmen pemerintah perkuat pendidikan vokasi khususnya di pesantren. Ini akan jadi pintu masuk pesantren meningkatkan kualitas santri. Pesantren bisa menggandeng pemerintah dan dunia industri, cuma ya itu, pesantren harus pro aktif” (ktm/iyf)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.