slot deposit qris slot qris
bisnis

Komisi XII Dukung Upaya Pemerintah Mitigasi Pasokan Migas Pasca Penutupan Selat Hormuz

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam mengimplementasikan strategi mitigasi guna menghadapi potensi gangguan pasokan minyak dan gas secara global. Hal ini disampaikan seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang dapat berdampak signifikan pada akses pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur penting bagi distribusi energi di dunia, dengan sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global melewati wilayah ini. Keberadaan selat ini menjadikannya sangat strategis dan krusial untuk stabilitas pasokan energi internasional.

Ketika jalur ini terganggu atau bahkan terpaksa ditutup akibat konflik, dampak yang ditimbulkan tidak hanya akan dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah. Negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, juga akan mengalami konsekuensi yang signifikan.

Bambang menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih bergantung pada sejumlah komoditas energi dari Timur Tengah, seperti crude oil dan LPG yang diimpor dari Arab Saudi. Ketergantungan ini menunjukkan perlunya langkah-langkah proaktif dari pemerintah untuk memastikan bahwa pasokan energi domestik tetap stabil, meskipun ada gangguan pada distribusi global.

Dengan situasi yang tidak menentu, penting bagi pemerintah untuk merumuskan langkah-langkah antisipatif guna menjaga kelangsungan pasokan energi nasional. Dukungan Komisi XII terhadap rencana Menteri ESDM ini ditujukan untuk memastikan bahwa ketahanan energi Indonesia tetap terjaga dalam konteks geopolitik yang berubah-ubah.

“Dukungan kami terhadap langkah-langkah mitigasi yang diambil oleh Menteri ESDM sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional. Di tengah dinamika geopolitik global, tindakan antisipatif menjadi kunci untuk mempertahankan ketahanan energi Indonesia,” ungkap Bambang dalam keterangannya pada Rabu, 4 Maret 2026.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa lama potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung. Oleh karena itu, langkah mitigasi harus dilakukan secara dini. Diversifikasi sumber pasokan energi menjadi sebuah opsi penting untuk memberikan fleksibilitas dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

“Salah satu strategi yang patut dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara yang secara geopolitik lebih stabil. Ini termasuk menjalin kerjasama dengan negara-negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi yang lebih aman, seperti Amerika Serikat,” tambahnya.

Selanjutnya, Bambang juga menginformasikan bahwa stok crude oil nasional saat ini berada di angka sekitar 21 hari dan dalam kondisi yang masih terbilang aman. Namun, situasi geopolitik yang terus berubah menuntut pemerintah untuk tetap melakukan langkah-langkah antisipatif demi memastikan pasokan energi bagi masyarakat dan sektor industri tetap terjaga.

➡️ Baca Juga: Konsol Xbox Edisi Terbatas Halo: Sekarang Harganya Naik 300% dari Harga Normal Dulu!

➡️ Baca Juga: Berkolaborasi dengan Kementerian BUMN, Dell Gelar Program Pelatihan AI untuk 5.000 Tenaga Kerja.

Related Articles

Back to top button