Site icon MataAir

Keputusan Nasib Ganjil Genap Jakarta Setelah Rampungnya MRT ke Kota Tua Menurut Pramono Anung

Keputusan Nasib Ganjil Genap Jakarta Setelah Rampungnya MRT ke Kota Tua Menurut Pramono Anung

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengungkapkan bahwa keputusan terkait kebijakan ganjil genap di ibu kota akan ditentukan setelah selesainya pembangunan jalur Moda Raya Terpadu (MRT) yang direncanakan menghubungkan Pondok Labu hingga Kota Tua.

Pramono menekankan bahwa saat ini, Pemprov DKI Jakarta masih melanjutkan proyek pembangunan jalur MRT yang ditargetkan rampung pada tahun 2029, menciptakan konektivitas yang lebih baik di wilayah tersebut.

“Saya tidak dapat memberikan jawaban pasti saat ini, karena saya harus mempertimbangkan situasi yang ada,” ungkap Pramono saat konferensi pers di Balai Kota Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026.

Ia juga mengungkapkan harapannya agar jalur MRT yang menghubungkan Lebak Bulus dengan kawasan Harmoni dan Monas dapat mulai beroperasi pada tahun 2027.

Pramono menambahkan bahwa penyelesaian jalur MRT hingga Stasiun Kota Tua diharapkan dapat meredakan kemacetan yang terjadi akibat pengerjaan proyek di sepanjang jalur tersebut.

Setelah pembangunan selesai, Pemprov DKI Jakarta akan mengevaluasi kelanjutan kebijakan ganjil genap berdasarkan analisis kondisi lalu lintas dan sistem transportasi di Jakarta.

“Jika saya mencabut kebijakan ini sebelum proyek selesai di Kota Tua, pasti lalu lintas dan transportasi juga akan terganggu,” jelas Pramono.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta juga tengah meneliti penerapan ganjil genap di berbagai ruas jalan yang terdampak oleh pembangunan MRT.

Beberapa ruas jalan yang menjadi perhatian antara lain adalah Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk di Jakarta Pusat.

Pramono menyatakan bahwa pembangunan MRT berpotensi mengubah dinamika lalu lintas di sejumlah ruas jalan tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi terhadap penerapan ganjil genap agar kebijakannya dapat disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.

Hasil kajian tersebut akan menjadi acuan bagi Pemprov DKI dalam menentukan apakah aturan ganjil genap di ruas jalan yang terdampak perlu dimodifikasi atau tetap diterapkan.

“Karena sudah banyak ruas yang terdampak, seperti Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan sebagainya, kami sedang melakukan kajian untuk segera mengambil keputusan,” kata Pramono.

Kebijakan ganjil genap telah berhasil menekan volume kendaraan di Jakarta.

Evaluasi terhadap kebijakan ini menunjukkan bahwa penerapan ganjil genap berdampak positif terhadap lalu lintas di beberapa ruas jalan di Jakarta.

Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, volume kendaraan sebelum penerapan ganjil genap tercatat sebesar 204.997 unit mobil penumpang per jam. Setelah kebijakan ini diterapkan, jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 158.262 unit mobil penumpang per jam.

➡️ Baca Juga: Durasi Proses Bayi Tabung hingga Kehamilan: Pahami Setiap Tahapnya dengan Jelas

➡️ Baca Juga: <p>Investasi Apple pada AI Lokal: Alat Manajemen yang Berkembang untuk Meningkatkan Efisiensi Tempat Kerja</p>

Exit mobile version