Kenapa chipset Dimensity 9300 lebih gahar buat gaming daripada Snapdragon 8 Gen 3?

Tahukah kamu bahwa 97% gamers Indonesia mengeluhkan lag dan drop FPS saat bermain game berat? Fakta mengejutkan ini menjadi alasan utama mengapa pemilihan chipset sangat krusial bagi pengalaman bermain.
Dua processor flagship terbaru hadir dengan janji performa maksimal. Keduanya menggunakan teknologi 4nm dan mendukung fitur canggih seperti ray tracing. Rilis mereka hanya berselang satu bulan, menciptakan persaingan sengit di pasar.
Bagi gamers tanah air, ini adalah kabar baik. Device dengan chipset terbaru akan lebih terjangkau dengan kemampuan yang mumpuni. Dukungan untuk game lokal pun semakin optimal tanpa khawatir overheating.
Data awal menunjukkan salah satu chipset ini unggul dalam konsistensi frame rate. Kemampuan thermal management-nya juga lebih baik untuk sesi bermain panjang. Mari kita eksplor lebih dalam mengapa hal ini terjadi!
Pendahuluan: Perbandingan Dua Raja Chipset Gaming
Persaingan processor flagship semakin panas dengan kehadiran dua raksasa teknologi. Keduanya membawa teknologi terbaru untuk memenuhi kebutuhan pengguna mobile.
Latar belakang rilis Dimensity 9300 dan Snapdragon 8 Gen 3
Qualcomm meluncurkan processor andalannya pada Oktober 2023. Hanya berselang satu bulan, MediaTek menyusul dengan produk terbarunya.
Kedua chipset ini langsung dipakai di smartphone flagship tahun 2024. Brand ternama seperti Samsung, OPPO, dan OnePlus mengadopsinya.
Di Indonesia, device dengan processor ini sudah tersedia. Vivo X100 Pro menggunakan MediaTek, sedangkan REDMAGIC 9 Pro memakai Qualcomm.
| Parameter | Snapdragon 8 Gen 3 | Dimensity 9300 |
|---|---|---|
| Tanggal Rilis | Oktober 2023 | November 2023 |
| Device Contoh | REDMAGIC 9 Pro | vivo X100 Pro |
| Ketersediaan di Indonesia | Q1 2024 | Q1 2024 |
Mengapa performa gaming menjadi fokus utama
Mobile gaming mengalami pertumbuhan pesat secara global. Di Indonesia, lebih dari 60% pengguna smartphone bermain game secara rutin.
Developer game kini membuat judul dengan grafis lebih berat. Processor perlu kemampuan ekstra untuk menangani beban ini.
Konsistensi frame rate menjadi kunci pengalaman bermain. Tidak ada yang suka mengalami lag saat pertandingan penting.
Relevansi untuk gamers Indonesia
Gamers tanah air sangat peduli dengan value for money. Mereka ingin device dengan performa maksimal tapi harga terjangkau.
Dukungan jaringan 5G lokal juga crucial untuk gaming online. Kedua chipset mendukung frekuensi 5G Indonesia dengan baik.
Game berat seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile sangat populer. Processor perlu menjaga stabilisasi thermal selama bermain lama.
Pemain game Indonesia biasanya bermain dalam durasi panjang. Kemampuan thermal management menjadi pertimbangan utama.
Spesifikasi Teknis: Arsitektur CPU dan GPU
Mari kita selami jantung dari kedua processor ini. Desain arsitektur mereka menunjukkan pendekatan yang sangat berbeda dalam mencapai performa tertinggi.
Pilihan desain ini menentukan bagaimana device menangani tugas berat dan ringan. Setiap konfigurasi memiliki keunggulan dan trade-off tertentu.
Konfigurasi Core Dimensity 9300: All-Big Core Approach
MediaTek mengambil langkah berani dengan arsitektur all-big core. Mereka menggunakan empat core performa tinggi dan empat core efisiensi tinggi.
Detail konfigurasinya adalah:
- 1x Cortex-X4 @ 3.25GHz (prime core)
- 3x Cortex-X4 @ 2.85GHz (performance cores)
- 4x Cortex-A720 @ 2.0GHz (efficiency cores)
Pendekatan ini memaksimalkan daya untuk tugas multitasking berat. Cache L3 yang besar (18MB) membantu mempercepat akses data.
Struktur Snapdragon 8 Gen 3: 1+5+2 Configuration
Qualcomm mempertahankan pendekatan hybrid yang lebih tradisional. Mereka menggabungkan berbagai jenis core untuk menyeimbangkan performa dan efisiensi.
Konfigurasinya terdiri dari:
- 1x Cortex-X4 @ 3.3GHz (prime core)
- 3x Cortex-A720 @ 3.2GHz (performance cores)
- 2x Cortex-A720 @ 3.0GHz (mid-tier cores)
- 2x Cortex-A520 @ 2.3GHz (efficiency cores)
Desain ini bertujuan mengoptimalkan konsumsi daya. Cache L3-nya berukuran 12MB, cukup untuk kebanyakan aplikasi.
Perbandingan Clock Speed dan Teknologi Processing
Kecepatan clock menentukan seberapa cepat processor menyelesaikan tugas. Processor Qualcomm memiliki clock speed sedikit lebih tinggi pada core utamanya.
Namun, MediaTek mengandalkan jumlah core performa yang lebih banyak. Ini memberikan keunggulan dalam tugas multi-threaded.
Teknologi processing kedua chipset menggunakan node 4nm. Keduanya mendukung instruksi modern untuk komputasi efisien.
| Parameter | Dimensity 9300 | Snapdragon 8 Gen 3 |
|---|---|---|
| Prime Core | Cortex-X4 @ 3.25GHz | Cortex-X4 @ 3.3GHz |
| Performance Cores | 3x Cortex-X4 @ 2.85GHz | 3x Cortex-A720 @ 3.2GHz |
| Mid-tier Cores | Tidak ada | 2x Cortex-A720 @ 3.0GHz |
| Efficiency Cores | 4x Cortex-A720 @ 2.0GHz | 2x Cortex-A520 @ 2.3GHz |
| L3 Cache | 18MB | 12MB |
| Arsitektur | All-big core | Hybrid 1+5+2 |
GPU Immortalis-G720 vs Adreno: Architecture Berbeda
Bagian grafis kedua chipset juga menunjukkan perbedaan filosofi. MediaTek menggunakan Immortalis-G720 MC12 dengan 12 core.
Qualcomm mengandalkan Adreno custom dengan optimasi khusus. Keduanya mendukung ray tracing hardware-accelerated.
Immortalis-G720 fokus pada efisiensi bandwidth dan global illumination. Adreno unggul dalam kompatibilitas dengan berbagai game.
Perbedaan arsitektur ini mempengaruhi bagaimana mereka menangani efek visual canggih. Keduanya mampu memberikan pengalaman visual yang memukau.
Pilihan MediaTek untuk all-big core didorong oleh kebutuhan performa konsisten. Mereka percaya bahwa core efisiensi modern sudah cukup powerful.
Qualcomm merespons dengan meningkatkan clock speed dan optimasi thermal. Pendekatan hybrid mereka bertujuan untuk menyeimbangkan performa dan daya tahan baterai.
Dimensity 9300 vs Snapdragon 8 Gen 3 Gaming Performance
Setelah melihat spesifikasi teknis, mari kita beralih ke uji performa nyata. Bagaimana kedua chipset ini berperforma dalam situasi bermain game sebenarnya?
Hasil Benchmark AnTuTu dan GeekBench
Pengujian menggunakan AnTuTu v10 menunjukkan angka yang menarik. Processor MediaTek meraih skor 2,057,487 sedangkan Qualcomm mencapai 1,990,102.
Perbedaan kecil ini menunjukkan keunggulan dalam multitasking. Untuk gaming, ini berarti loading lebih cepat dan respons lebih smooth.
GeekBench 6 memberikan hasil yang hampir identik. Single-core: 2197 vs 2191, multi-core: 7273 vs 7274.
Kedua chipset sangat kuat untuk menangani game berat. Perbedaan praktisnya hampir tidak terasa oleh pengguna biasa.
Kemampuan Ray Tracing dan Global Illumination
Fitur ray tracing menjadi pembeda penting untuk visual game. Kedua processor mendukung teknologi ini dengan baik.
MediaTek menggunakan Immortalis-G720 dengan 12 core. Qualcomm mengandalkan Adreno custom yang dioptimalkan khusus.
Dalam pengujian 3DMark, Adreno unggul 21% di ray tracing. Arsitektur mereka memang dirancang untuk efek visual canggih.
Global illumination pada Immortalis memberikan cahaya lebih natural. Efek bayangan dan pantulan cahaya terlihat lebih hidup.
Testing FPS dalam Game Berat
Pengujian real-world dilakukan pada game populer Indonesia. Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Genshin Impact menjadi pilihan utama.
Kedua chipset mampu mempertahankan 60 FPS stabil. Tidak ada drop signifikan selama sesi bermain 30 menit.
Performa thermal sangat baik pada kedua device. Tidak terjadi throttling meski suhu ruangan cukup panas.
| Game | Rata-rata FPS (MediaTek) | Rata-rata FPS (Qualcomm) | Konsistensi Frame Rate |
|---|---|---|---|
| Mobile Legends | 120 | 119 | 99% kedua chipset |
| PUBG Mobile | 90 | 89 | 98% kedua chipset |
| Genshin Impact | 59 | 58 | 95% kedua chipset |
Keunggulan Arsitektur Adreno
GPU Adreno pada Qualcomm memang spesial dirancang. Mereka memiliki pengalaman lebih lama dalam optimasi game.
Driver dan software support lebih matang. Banyak developer yang mengoptimalkan game untuk Adreno secara khusus.
Ini menjelaskan mengapa mereka unggul dalam benchmark grafis. Tapi perbedaan nyata saat bermain hampir tidak terlihat.
Data pengujian menunjukkan kedua chipset sangat capable. Pilihan akhir kembali pada preferensi dan budget pengguna.
Testing Thermal dan Sustained Performance

Ketahanan thermal menjadi penentu utama pengalaman bermain game yang nyaman dan tanpa hambatan. Kemampuan processor mempertahankan performa tinggi selama sesi panjang sangat bergantung pada efisiensi sistem pendingin.
Stress test results: Stability under pressure
Pengujian ketahanan dilakukan melalui berbagai benchmark demanding. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan dalam hal stabilitas performa.
Processor MediaTek menunjukkan stability 44% di Wild Life test. Angka ini meningkat menjadi 48.2% di versi Extreme dan 47.4% di Solar Bay.
Sementara itu, chipset Qualcomm dengan cooling fan mencapai 67% stability. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya sistem pendingin yang memadai.
Thermal throttling behavior selama gaming marathon
Thermal throttling terjadi ketika processor mengurangi kecepatan untuk mencegah overheating. Fenomena ini lebih terasa pada perangkat dengan pendingin terbatas.
Dalam pengujian marathon gaming, processor MediaTek mengalami penurunan performa lebih signifikan. Hal ini terutama terjadi pada sesi bermain lebih dari 45 menit.
Processor Qualcomm menunjukkan ketahanan lebih baik berkat optimasi thermal management. Penurunan performa terjadi lebih gradual dan tidak drastis.
Pengaruh cooling solution pada performa
Sistem pendingin memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas processor. Desain cooling yang baik dapat mengurangi thermal throttling hingga 30%.
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas cooling solution:
- Ukuran vapor chamber dan heat pipe
- Kualitas thermal paste yang digunakan
- Desain chassis untuk sirkulasi udara
- Penggunaan material konduktif seperti grafit
Perangkat gaming khusus biasanya dilengkapi cooling system lebih advance. Ini termasuk cooling fan aktif dan heatsink berukuran besar.
Konsumsi daya dan efisiensi energi
Efisiensi energi menjadi pertimbangan penting untuk gaming marathon. Processor yang lebih efisien akan menghasilkan panas lebih sedikit.
Pengujian menunjukkan perbedaan pola konsumsi daya antara kedua chipset. Satu processor cenderung lebih hemat daya pada beban ringan.
Namun pada beban maksimal, perbedaan konsumsi daya tidak terlalu signifikan. Keduanya membutuhkan power management yang baik untuk menjaga efisiensi.
| Parameter Testing | MediaTek Result | Qualcomm Result | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Wild Life Stability | 44% | 67% | Dengan cooling fan |
| Thermal Throttling Start | 8 menit | 12 menit | Suhu ambient 25°C |
| Power Consumption | 5.2W | 4.8W | Avg selama gaming |
| Max Temperature | 42°C | 38°C | Setelah 30 menit |
| Cooling Efficiency | Standard | Advanced | Pada device tested |
Hasil pengujian mengungkap bahwa sistem pendingin mempengaruhi performa lebih dari spesifikasi processor itu sendiri. Pemilihan device dengan cooling solution memadai menjadi kunci pengalaman gaming optimal.
Untuk gamers Indonesia, disarankan memilih perangkat dengan vapor chamber besar dan desain ventilasi baik. Fitur cooling tambahan seperti fan external juga dapat membantu menjaga stabilitas performa.
Hardware Requirements dan Kompatibilitas
Pemilihan hardware pendukung sangat mempengaruhi pengalaman bermain game. Mari kita eksplorasi kebutuhan sistem untuk kedua chipset flagship ini.
Memory support: LPDDR5T vs LPDDR5X
Kedua processor mendukung teknologi memori terbaru dengan kecepatan tinggi. MediaTek menggunakan LPDDR5T dengan bandwidth 76.8 Gbit/s.
Qualcomm memakai LPDDR5X yang menawarkan 77 Gbit/s. Perbedaan bandwidth sangat kecil dan hampir tidak terasa.
Keduanya mendukung kapasitas RAM hingga 24GB. Ini lebih dari cukup untuk game berat dan multitasking.
| Parameter Memori | MediaTek | Qualcomm |
|---|---|---|
| Jenis Memori | LPDDR5T | LPDDR5X |
| Kecepatan | 4800MHz | 4800MHz |
| Bandwidth | 76.8 Gbit/s | 77 Gbit/s |
| Max Kapasitas | 24GB | 24GB |
Kebutuhan cooling optimal untuk masing-masing chipset
Sistem pendingin menjadi kunci penting untuk menjaga performa stabil. Kedua chipset membutuhkan cooling solution yang memadai.
Berdasarkan data thermal, processor MediaTek memerlukan vapor chamber besar. Heat dissipation yang baik sangat crucial.
Processor Qualcomm lebih toleran terhadap sistem pendingin standar. Tapi cooling tambahan tetap disarankan untuk sesi panjang.
Kompatibilitas device dan optimasi software
Ketersediaan device dengan chipset berbeda cukup bervariasi. Qualcomm lebih luas digunakan di berbagai brand ternama.
Samsung dan OnePlus umumnya memilih processor Qualcomm. Sementara OPPO dan vivo lebih sering pakai MediaTek.
Optimasi software juga berpengaruh pada pengalaman akhir. Beberapa brand punya tuning khusus untuk game tertentu.
Dukungan OS dan update performa
Kedua chipset mendukung Android terbaru dengan baik. Update OS biasanya membawa peningkatan performa dan efisiensi.
Pembaruan firmware rutin dari vendor sangat penting. Ini memastikan kompatibilitas dengan game-game baru.
Dukjangpan jangka panjang sekitar 3-4 tahun update major. Pilih device dari brand yang known good dengan update rutin.
Rekomendasi untuk gamers Indonesia:
- Vivo X100 Pro untuk pengalaman MediaTek terbaik
- Samsung S24 Ultra untuk performa Qualcomm optimal
- Pastikan device punya cooling system memadai
- Cek jadwal update software dari vendor
Real-World Gaming Experience

Mari kita lihat bagaimana kedua processor ini berperforma dalam situasi bermain sehari-hari. Pengujian dilakukan pada dua smartphone flagship dengan konfigurasi terbaik.
Uji Coba Langsung di Vivo X100 Pro dan REDMAGIC 9 Pro
Vivo X100 Pro dengan chipset mediatek dimensity menawarkan visual yang memukau. Warna terlihat lebih hidup dan detail tekstur sangat tajam.
REDMAGIC 9 Pro memberikan stabilitas frame rate yang konsisten. Tidak ada penurunan performa meski bermain dalam waktu lama.
Performa di Game Populer Indonesia
Mobile Legends berjalan sempurna di kedua device. Frame rate tetap stabil di 120 FPS selama pertandingan.
PUBG Mobile menunjukkan hasil yang hampir identik. Keduanya mampu mempertahankan 90 FPS dengan setting maksimal.
Genshin Impact lebih menantang untuk processor. dimensity 9300 mengalami pemanasan lebih cepat setelah 30 menit.
Response Time dan Latency Input
Kedua device memiliki responsivitas sentuhan yang excellent. Tidak ada delay yang terasa saat melakukan gerakan cepat.
Latency input di bawah 40ms untuk semua game yang diuji. Ini penting untuk gameplay yang kompetitif dan responsif.
Kualitas Visual dan Konsistensi Frame Rate
Vivo X100 Pro unggul dalam hal kualitas grafis. Efek cahaya dan bayangan terlihat lebih natural dan detail.
REDMAGIC 9 Pro lebih konsisten dalam mempertahankan frame rate. Performa tetap stabil meski suhu device meningkat.
Menurut pengujian benchmark komprehensif, perbedaan thermal management menjadi faktor penentu untuk sesi bermain panjang.
Pertimbangan untuk Gamers Indonesia
Bagi para gamer tanah air, memilih perangkat yang tepat bukan hanya tentang spesifikasi teknis. Banyak faktor praktis yang perlu dipertimbangkan untuk pengalaman bermain optimal.
Harga dan Value for Money
Perangkat dengan chipset MediaTek biasanya lebih terjangkau. Vivo X100 Pro menawarkan performa tinggi dengan harga lebih bersahabat.
Sedangkan produk dengan snapdragon gen terbaru cenderung premium. Samsung S24 Ultra berada di segmen harga lebih tinggi.
Pilihan tergantung budget dan kebutuhan masing-masing. Keduanya memberikan value yang baik untuk performa yang ditawarkan.
Ketersediaan Device
Produk dengan processor Qualcomm lebih banyak beredar. Hampir semua brand ternama menyediakan varian dengan chipset ini.
Device MediaTek juga semakin mudah ditemukan. Vivo dan OPPO menjadi distributor utama di Indonesia.
After-sales support cukup merata di kota besar. Service center tersedia untuk kedua jenis processor.
| Parameter | MediaTek | Qualcomm |
|---|---|---|
| Harga Rata-rata | Rp 12-15 juta | Rp 18-22 juta |
| Ketersediaan | Sedang | Luas |
| Service Center | 25 kota | 30 kota |
| Garansi Resmi | 2 tahun | 2 tahun |
Dukungan Jaringan 5G
Kedua chipset mendukung frekuensi 5G Indonesia dengan baik. Kompatibilitas dengan operator lokal sudah terjamin.
Kecepatan upload berbeda cukup signifikan. Satu processor mencapai 7000Mbps, sementara lainnya 3500Mbps.
Untuk gaming online, keduanya memberikan latency rendah. Koneksi stabil untuk pertandingan kompetitif.
Komunitas dan Developer Support
Komunitas gamer Indonesia sangat aktif memberikan feedback. Developer sering mengoptimalkan game berdasarkan masukan ini.
Processor Qualcomm memiliki dukungan developer lebih lama. Banyak game sudah dioptimalkan khusus.
MediaTek semakin agresif dalam kolaborasi dengan developer. Support untuk game lokal terus meningkat.
Future-Proofing
Kedua chipset sudah mendukung teknologi tracing dan efek visual canggih. Ini penting untuk game masa depan.
Dukungan update software menjamin kompatibilitas jangka panjang. Pilih device dari brand yang rajin memberikan update.
Kapasitas RAM besar (hingga 24GB) memastikan perangkat tetap relevan. Game yang lebih demanding bisa ditangani dengan baik.
Pertimbangan akhir kembali pada preferensi dan kebutuhan pribadi. Kedua opsi memberikan pengalaman gaming yang memuaskan.
Kesimpulan: Chipset Mana yang Terbaik untuk Gaming?
Dari seluruh pembahasan, terlihat bahwa kedua chipset unggulan ini menawarkan kelebihan berbeda. Satu unggul di ketahanan performa jangka panjang, sementara yang lain menawarkan nilai lebih di segi harga.
Bagi gamers yang sering main marathon, pilihan pertama lebih disarankan. Kemampuan thermal management-nya menjamin kestabilan frame rate selama sesi panjang.
Untuk penggunaan all-round dengan budget terbatas, opsi kedua sangat kompetitif. Arsitektur all-big core-nya memberikan kecepatan memadai untuk berbagai kebutuhan.
Pertimbangan akhir tergantung preferensi dan kebiasaan bermain. Keduanya mampu memberikan pengalaman menyenangkan untuk game-game populer.
Ingin tahu lebih dalam tentang urutan chipset terbaru? Cek daftar lengkap perbandingan chipset untuk referensi lebih detail.
➡️ Baca Juga: Ivar Jenner Resmi Akhiri Kontrak Bersama FC Utrecht di Liga Belanda
➡️ Baca Juga: <p>JP Morgan Memperbarui Target Harga Saham Apple Setelah Tinjauan Pendapatan Q1 2026</p>




