IHSG Turun 2,79 Persen, Bursa Asia dan Wall Street Lesu Tertekan Harga Minyak

IHSG mengalami penurunan yang signifikan, dibuka pada level 7.374 dengan penurunan 211 poin atau sekitar 2,79 persen pada perdagangan hari Senin, 9 Maret 2026. Penurunan ini menandai awal yang buruk bagi pasar saham Indonesia, yang menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal dan internal.
Fanny Suherman, Kepala Riset Ritel di BNI Sekuritas, meyakini bahwa IHSG mungkin akan mengalami rebound pada sesi perdagangan hari ini. Prediksi ini menawarkan harapan di tengah ketidakpastian pasar yang sedang melanda saat ini.
“IHSG memiliki peluang untuk rebound menuju level 7.650. Namun, jika tidak mampu menembus level 7.700, ada kemungkinan akan kembali mengalami koreksi ke kisaran 7.400,” ujar Fanny dalam laporan risetnya pada Senin pagi.
Bursa Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pekan lalu, dengan beberapa indeks mengalami penurunan. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat naik 0,62 persen, sedangkan Topix menguat 0,39 persen. Sementara itu, Hang Seng di Hong Kong meningkat 1,72 persen, dan Taiex dari Taiwan turun 0,22 persen.
Kospi di Korea Selatan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen, namun ASX 200 di Australia turun 1 persen. Straits Times di Singapura hanya naik 0,03 persen, sedangkan FTSE Malaysia mengalami penguatan sebesar 0,28 persen.
Pergerakan bursa Asia tersebut dipengaruhi oleh ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah, di mana serangan dari Iran kembali menekan aset-aset berisiko. Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada fluktuasi harga minyak, dengan minyak mentah WTI diperdagangkan pada level US$91 per barel.
Situasi ini muncul setelah pemerintahan Trump mempertimbangkan berbagai langkah untuk merespons lonjakan harga minyak dan bensin yang disebabkan oleh konflik di Iran.
Fokus investor kini beralih kepada laporan non-farm payrolls dari AS, di mana data klaim pengangguran sebelumnya menunjukkan angka yang stagnan. Laporan non-farm payrolls yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat waktu setempat diharapkan mencerminkan perlambatan dalam perekrutan tenaga kerja selama bulan lalu.
“Level support IHSG terletak pada rentang 7.400 hingga 7.480, sementara resistancenya berada di kisaran 7.650 hingga 7.700,” tambahnya.
Sebagai tambahan informasi, indeks-indeks utama di Wall Street ditutup dengan catatan negatif pada akhir perdagangan Jumat lalu. Penurunan ini sejalan dengan kondisi pasar tenaga kerja yang melemah di AS dan lonjakan harga minyak hingga 12 persen akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot sebesar 0,95 persen. Laporan penggajian yang tidak memenuhi harapan menambah kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS, di saat yang bersamaan ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengakibatkan biaya energi meroket.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan militer yang dilakukan oleh AS-Israel di Iran, yang berdampak pada terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz. Qatar juga memperingatkan bahwa harga minyak mentah dapat melonjak hingga mencapai US$150 per barel.
➡️ Baca Juga: <p>“Apple Menghadapi Denda $851 Juta karena Pelanggaran Privasi dan Antimonopoli pada tahun 2022”</p>
➡️ Baca Juga: Perkenalkan Teknologi “Local AI”, Software “Luminar Neo” Izinkan Edit Foto tanpa Koneksi Internet.




