Idrus Marham menegaskan bahwa Prabowo Subianto, sebagai Presiden, merupakan sosok yang mengedepankan nilai-nilai keislaman dalam kepemimpinannya.
Pernyataan ini disampaikan Idrus sebagai respons terhadap diskusi publik yang terfokus pada buku berjudul ‘Islam Ala Prabowo’.
“Walaupun Prabowo bukanlah seorang santri, dia adalah seorang Muslim sejati. Kehidupannya mencerminkan nilai-nilai dan esensi Islam. Namun, cara Prabowo menjalankan Islamnya mungkin berbeda dengan cara kita. Ada individu yang besar dalam tradisi santri, sementara yang lainnya tumbuh dalam keluarga Muslim yang homogen. Prabowo memiliki pengalaman spiritual yang unik,” jelas Idrus.
Idrus berpendapat bahwa latar belakang keluarga Prabowo yang beragam agama justru memberikan sudut pandang yang menarik untuk menilai keteguhan iman Prabowo sebagai seorang Muslim secara lebih objektif.
Prabowo dibesarkan dalam sebuah keluarga yang dikenal dengan latar belakang multireligius, tetapi tetap mempertahankan identitas sebagai Muslim yang kuat.
“Mempertahankan keyakinan di tengah keluarga yang memiliki beragam agama bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya menilai keberislaman seseorang hanya berdasarkan apakah mereka berasal dari keluarga pesantren atau tidak. Ada dimensi keteguhan iman yang layak untuk dihargai,” tuturnya.
Idrus berpendapat bahwa ukuran seorang Muslim seharusnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik seseorang berbicara tentang agama atau seberapa dalam pemahaman mereka terhadap teks-teks keagamaan.
“Al-Qur’an sangat menekankan perhatian terhadap anak yatim dan orang-orang miskin, bukan? Bukankah iman selalu diiringi dengan tindakan amal? Maka, seorang Muslim sejati bukan hanya orang yang pandai memahami teks agama, tetapi juga mereka yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam tindakan nyata,” tambahnya.
Idrus juga mengingatkan bahwa pemahaman tentang Islam tidak harus dikotomis dengan ilmu pengetahuan. Menurutnya, Islam memiliki pandangan yang holistik tentang kehidupan.
Oleh karena itu, pengembangan sains, teknologi, inovasi, pendidikan, dan peradaban tidak seharusnya dipandang sebagai hal yang berlawanan dengan agama.
“Islam itu bersifat universal, komprehensif, terintegrasi, dan fleksibel. Kita tidak boleh memisahkan agama dari sains. Peradaban Islam pernah melewati masa ketika ilmu agama, filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya berkembang dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” ujarnya.
➡️ Baca Juga: Perbedaan 60 Hz vs 144 Hz Monitor untuk E-Sports (Test Latency)
➡️ Baca Juga: Apple Rilis iPhone Premium Lebih Awal untuk Antisipasi Krisis Memori Global 2026

