Ganjil-Genap Jakarta 10 Tahun: Apakah Masih Efektif Mengatasi Kemacetan?

Jakarta – Kebijakan ganjil-genap yang diterapkan di Jakarta telah berlangsung selama hampir sepuluh tahun. Aturan ini, yang membatasi akses kendaraan berdasarkan angka terakhir dari pelat nomor, mulai diterapkan pada tahun 2016 sebagai alternatif dari sistem 3-in-1 yang sebelumnya digunakan.
Selama masa penerapannya, kebijakan ganjil-genap telah menjadi salah satu alat yang digunakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengontrol jumlah kendaraan pribadi di jalan-jalan utama, terutama pada jam-jam sibuk.
Namun, setelah bertahun-tahun beroperasi, efektivitas kebijakan ini kembali menjadi topik perbincangan. Pertanyaannya tidak hanya seputar apakah lalu lintas di ruas yang terpengaruh menjadi lebih lancar, tetapi juga mengenai sejauh mana ganjil-genap dapat mengatasi masalah kemacetan di Jakarta secara menyeluruh.
Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat MTI Pusat, berpendapat bahwa ganjil-genap pada dasarnya lebih berfungsi untuk mengatur lalu lintas di jalur-jalur tertentu saja.
Menurutnya, meskipun kebijakan ini dapat membantu menjaga kelancaran arus kendaraan di ruas-ruas yang menerapkannya, hal itu tidak secara otomatis mengurangi jumlah kendaraan yang ada di seluruh jaringan jalan di Jakarta.
“Ganjil-genap berfungsi untuk mencegah terjadinya kemacetan total, bukan untuk menyelesaikan masalah kemacetan itu sendiri,” ungkap Djoko dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat (2/10/2026).
Salah satu masalah yang timbul dari kebijakan ini adalah fenomena perpindahan kepadatan lalu lintas, atau traffic displacement. Ketika pembatasan diterapkan di ruas tertentu, beberapa pengendara mungkin memilih untuk mengambil jalur alternatif yang tidak terkena aturan tersebut.
Akibatnya, kemacetan tidak selalu hilang, melainkan bisa berpindah ke jalan-jalan kolektor atau lingkungan di sekitar jalur utama yang terkena pembatasan.
Di samping itu, kebijakan ganjil-genap hanya berlaku untuk kendaraan tertentu berdasarkan nomor pelat. Sepeda motor tidak terpengaruh oleh aturan ini, sehingga jalan yang ada tetap diisi oleh kendaraan roda dua.
Tantangan lain muncul dari kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan aturan ini. Pengendara yang memerlukan mobil setiap hari dapat mengubah waktu perjalanan mereka untuk menghindari pembatasan.
Beberapa orang memilih untuk berangkat lebih awal sebelum aturan berlaku atau pulang setelah jam ganjil-genap berakhir. Pola ini pada akhirnya dapat memperpanjang periode kemacetan, meskipun tidak selalu terjadi di ruas yang sama.
Djoko juga menunjukkan adanya perilaku lain yang menjadi tantangan dalam penerapan regulasi ini, seperti kepemilikan beberapa mobil dengan nomor pelat yang berbeda. Dengan cara ini, pemilik kendaraan memiliki opsi untuk menggunakan mobil dengan pelat yang sesuai dengan tanggal yang berlaku.
➡️ Baca Juga: Jisoo BLACKPINK Stars as Webtoon Producer in Netflixs Teaser for Boyfriend on Demand
➡️ Baca Juga: Sony Hapus Logo 8K Dari Box PS5 2024, Kenapa Sih?



