Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengungkapkan bahwa pemerintah berencana untuk memanfaatkan secara maksimal Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Pulau Kalimantan.
Kondisi kekeringan yang diperkirakan akan berlanjut selama 1,5 bulan ke depan menjadi latar belakang pentingnya langkah ini.
Raja Juli menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Manggala Agni untuk memantau perkembangan situasi kebakaran dan langkah-langkah mitigasi yang telah dilaksanakan.
“Untuk memadamkan api, hujan merupakan solusi utama, baik melalui hujan alami maupun hujan buatan yang dihasilkan oleh OMC,” ungkap Raja Juli saat memberikan keterangan di Gedung DPR, Jakarta Pusat, pada Rabu, 16 September 2026.
Ia menambahkan bahwa pemerintah, bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah sepakat untuk melaksanakan OMC secara masif selama masih ada potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan.
Raja Juli menjelaskan bahwa OMC akan tetap dilaksanakan meskipun ukuran awan hujan yang tersedia terbilang kecil. Operasi ini tidak hanya difokuskan pada wilayah yang sedang dilanda karhutla, tetapi juga akan dilakukan di daerah yang relatif aman dari kebakaran.
“Apapun ukuran potensi awan hujan yang ada, kami akan menerapkan OMC, termasuk di kabupaten yang tidak terdampak kebakaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Raja Juli menyatakan bahwa OMC di daerah yang belum mengalami karhutla bertujuan untuk menjaga kelembapan lahan agar potensi kebakaran dapat diminimalisir.
Selain itu, perubahan arah angin dapat mempengaruhi turunnya hujan hasil OMC di area yang sebelumnya tidak direncanakan untuk dioperasikan.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintah telah memaksimalkan kekuatan satuan tugas udara untuk mendukung penanganan karhutla, termasuk dalam kegiatan patroli dan pelaksanaan OMC.
Raja Juli juga mengingatkan masyarakat tentang kemungkinan berlanjutnya periode kekeringan yang dapat berdampak pada ekosistem dan aktivitas pertanian.
Berdasarkan informasi dari BMKG, hujan yang sebelumnya diperkirakan akan turun secara alami pada awal Oktober, kini diprediksi baru akan tiba antara akhir Oktober hingga awal November.
“BMKG awalnya memproyeksikan akan ada hujan alami pada awal Oktober, tetapi tampaknya fenomena tersebut baru akan terjadi di akhir bulan Oktober atau bahkan awal November,” jelas Raja Juli.
➡️ Baca Juga: Proyeksi IHSG Turun ke Level 6.700, Simak Rekomendasi Saham Berpotensi Cuan Hari Ini
➡️ Baca Juga: Zulhas Ajak Sekolah Segera Laporkan Jika MBG Tidak Sesuai Standar Tanpa Konten Tambahan

