Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut berkomitmen untuk meningkatkan konektivitas transportasi laut dengan mengimplementasikan program Pelayaran Perintis. Program ini dirancang untuk menyediakan akses transportasi bagi masyarakat di daerah terisolasi, terpencil, dan perbatasan, serta berfungsi untuk mendukung distribusi logistik. Selain itu, program ini juga berperan dalam memastikan ketersediaan barang dan mengurangi kesenjangan harga antarwilayah.
“Keberadaan Pelayaran Perintis sangat penting dalam memastikan bahwa transportasi laut tetap dapat diakses oleh masyarakat di wilayah yang belum mendapat layanan yang memadai dari angkutan komersial,” jelas Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Budi Mantoro, saat memberikan keterangan di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Laut akan mengoperasikan 107 trayek kapal perintis penumpang dengan 107 unit kapal. Trayek ini akan melayani 486 pelabuhan singgah yang tersebar di 184 kabupaten/kota di 28 provinsi.
“Dari total trayek tersebut, sebanyak 54 trayek atau sekitar 51 persen beroperasi di wilayah timur, 41 trayek atau 38 persen di wilayah tengah, dan 12 trayek atau 11 persen di bagian barat Indonesia. Sebaran trayek ini menunjukkan tingginya permintaan akan konektivitas di kawasan timur tanah air,” tambah Budi.
Sejak tahun 2015 hingga 2026, kapal perintis penumpang telah melaksanakan lebih dari 28.564 perjalanan, dengan jumlah penumpang yang diangkut mencapai 9.267.338 orang dan total barang mencapai 1.590.328 ton.
Budi menilai bahwa angka tersebut mencerminkan signifikansi kapal perintis penumpang dalam mendukung mobilitas masyarakat serta berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi di wilayah kepulauan.
“Yang diangkut oleh kapal perintis bukan hanya penumpang dan barang, tetapi juga akses bagi masyarakat terhadap layanan penting seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta pasar,” jelas Budi lebih lanjut.
Selain angkutan penumpang, program Angkutan Perintis Barang, yang lebih dikenal dengan Tol Laut, juga menunjukkan hasil yang positif. Hingga semester I 2026, telah dilaksanakan sebanyak 557 perjalanan yang melayani 100 pelabuhan dari ujung barat hingga timur Indonesia.
Dari kegiatan pelayaran tersebut, muatan berangkat tercatat sekitar 21.762 TEUs dan 1.682,42 ton, sedangkan muatan balik mencapai 6.660 TEUs. Penambahan muatan balik ini menunjukkan bahwa arus logistik kini tidak lagi satu arah, yang memungkinkan distribusi barang ke wilayah 3TP menjadi lebih efisien.
“Penguatan konektivitas penumpang harus diimbangi dengan peningkatan konektivitas logistik. Dengan distribusi barang yang semakin efisien, kami berharap kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan disparitas harga antarwilayah dapat diminimalkan,” ungkap Budi.
➡️ Baca Juga: Meutya Hafid Ungkap Data Konten Judol dan Soroti Aliran Dana yang Terlibat
➡️ Baca Juga: <p>“Jelajahi iOS 26.3: Tiga Cara Baru yang Menarik untuk Menyesuaikan iPhone Anda”</p>

