Program Pendampingan Osis

Student Peace Camp 2015
Student Peace Camp 2015

Dewasa ini Indonesia masih berada di tengah situasi dan kondisi pasca reformasi. Situasi dan kondisi ini jamak ditandai dengan fenomena yang mengemuka sebagai tantangan di berbagai bidang, baik di bidang ekonomi, politik, pendidikan dan sosial budaya. Kecenderungan pembangunan bangsa dengan mengedepankan pembangunan ekonomi dan pembangunan fisik berupa gedung-gedung pencakar langit patut ditinjau ulang. Karena substansi sebuah bangsa ada pada jatidiri dan jiwa manusianya. Membangun jiwa bangsa atau nation character building adalah jalan utama dalam membangun dan memajukan pembangunan fisik bangsa.

Pancasila sebagai falsafah kehidupan  berbangsa dan  bernegara sejatinya adalah warisan  luhur yang sangat brilian oleh para pendiri bangsa. Kedamaian dan ketentraman negeri merupakan cita-cita besar yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Namun, di era pasca reformasi dengan merebaknya globalisasi yang kini tak lagi hanya menjadi isu, nilai dan cita-cita luhur Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia mulai luntur. Gempuran globalisasi dengan terbukanya kran informasi menjadi salah satu alasan memicu terjadinya kenakalan remaja. Di  DKI  Jakarta,  kenakalan  remaja  seperti  seks  bebas,  dan  hamil  di  luar  nikah  cukup  tinggi.  Seiring  tingginya perilaku seks bebas ini, pertumbuhan penyakit kelamin pun makin merajalela. Data yang didapat dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta tahun 2010 menyebutkan, sebanyak 9.060 orang di Ibu Kota menderita  penyakit  kelamin,  5.051  diantaranya berjenis  kelamin  perempuan.  Dari  total  jumlah tersebut, 3.007 diantaranya masih berusia antara 14 dan  24  tahun.  Artinya,  angka  3.007  tersebut merupakan  angka  usia  produktif  yang didominasi oleh remaja  dan  pemuda.  Kondisi  ini  sungguh  sangat memprihatinkan.  Disisi  lain  yang  tak  kalah penting,  globalisasi  juga  disinyalir menjadi pemicu munculnya kelompok-kelompok radikal di kalangan pemuda dan merebak hingga di kalangan pelajar.

Pelajar  merupakan  aset  bangsa  yang  tak  ternilai  harganya  dalam  merawat  keutuhan  Negara  Kesatuan Republik  Indonesia.  Namun  pelan  tapi  pasti,  kenyataan  ini  mulai  sangat  terlihat  di  permukaan.  Radikalisasi mulai  tumbuh  dan  berkembang  di  sekolah-sekolah  bahkan  sudah  merasuk  dalam  jiwa  pelajar-pelajar Indonesia. Virus-virus intoleransi dan aksi kekerasan mulai tumbuh dan berkembang dikalangan para pelajar khususnya para pelajar yang berada di kota-kota besar seperti di Ibukota Jakarta.

Radikalisme  pelajar  di  Ibukota  sering  ditandai  dengan  kegiatan-kegiatan  anarkis  yang  dilakukan  seperti “bullying”,  tawuran  antar  pelajar  dan  kecenderungan  pelajar  DKI  yang  mendukung  gerakan  radikalisme agama  (Survei  LaKIP)  2011.  Penguatan  kembali  nilai-nilai  kebangsaan dan ke-Indonesiaan (nation character builiding) untuk  membangun semangat  persatuan  dan  kesatuan  di  kalangan  pelajar  SMA  DKI  yang  sempat  terkoyak  menjadi  suatu pekerjaan sangat penting demi terjaganya Indonesia yang aman dan damai serta utuhnya Negara Kesatuan Republik  Indonesia  di masa  mendatang.  Dari  itulah,  kegiatan Training of Trainer diharapkan mampu mengurai problem di atas dengan menjadi oase di saat mulai keringnya nilai-nilai luhur Pancasila dan nasionalisme ke-Indonesiaan pelajar.