BPUN Jabodetabek fokus pembentukan karakter Calon Mahasiswa

Posted on Posted in News, Terbaru

 

Ditengah pergolakan tahun politik di Indonesia, Yayasan Mata Air yang dikelola oleh Gus Mus kembali sejuk hadir ditengah masyarakat dengan kegiatan tahunannya di sektor pendidikan, yaitu Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN). BPUN adalah bimbingankhusus untuk para pelajar lulusan SMA kurang mampu dan berprestasi sebagai persiapan menghadapi SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguuruan Tinggi Negeri)2014. Dalam bimbingan ini, 50 peserta terbaik yang tersaring se-Jabodetabek diasramakan selama satu bulan penuh, diberi bimbingan khusus di bidang akademik serta materi Non-akademik, seperti Leadership, Enterpreneurship, Life Skill, Pengajian Islam Nusantara, dan Istighotsah Bersama.

Tahun ini, BPUN Jabodetabekdikemas dalam bentuk pesantren kilat satu bulan di Yayasan Darul Hikmah Pamulang pimpinan KH. M.Saidih, S. Ag.sejak 15 Mei -15 Juni 2014. Penyelenggara terdiri dari para aktivis mahasiswa UIN Jakarta yang bernaung dalam lembaga Visi Indonesia, bekerja sama dengan Yayasan Mata Air,GP Ansor, Indonesia Youth Forum (IYF), dan Dinas Pendidikan kota Tangerang Selatan. Seluruh peserta BPUN 2014 ini lolos dariproses seleksi nilai rapot yang cukup ketat. SMA/MAN/MA itu antara lain: SMAN 90 Jakarta, MAN 19 Jakarta,dan SMAN 8 Tangsel, SMAN 63 Jakarta, dll. Selain dari kawasan Jabodetabek, ada juga peserta yang berasal dari Kalimantan, Lampung, dan Cianjur. Ini adalah kali kedua BPUN Jabodetabek dilaksanakan, setelah tahun lalu membimbing 20 orang dengan tingkat kelulusan 50%. Tahun ini diharapkan tingkat kelulusan ke PTN naik menjadi 80%.

Latar belakang dilaksanakannya BPUN ini berangkat dari kepedulian dan kerisauan para mahasiswa Nahdliyin terhadap kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Kita tahu bahwa persaingan masuk perguruan tinggi negeri saat ini semakin ketat dan calon mahasiswa butuh bimbingan belajar tambahan, yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Oleh karena itu, BPUN hadir untuk para pelajar kurang mampu dan berprestasi sebagai wadah bimbingan intensif persiapan SBMPTN dengan berbagai tambahan kegiatannya tanpa dipungut biaya.

Selain diberikan modal akademik kepada seluruh peserta untuk mencapai tujuannya masuk PTN, pelaksanaan BPUN juga memberikan kegiatan tambahan. Kegiatan tersebut dikemas dengan nama kegiatan Non-akademik, untukmembentuk karakter peserta sebagai bekal menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa dan memantapkan spiritualnya. Peserta diharapkan dapat menyeimbangkan dua aspek tersebut, Akademik dan Non-akademik.

Satu bulan terasa singkat dengan padatnya kegiatan BPUN yang diadakan. Selain belajar aktif dikelas setiap Senin-Jumat, peserta juga wajib mengikuti belajar kelompok setiap malam. Materi non-akademik juga diberikan diwaktu luang, seperti Istighotsah bersama setiap malam Jumat, Pengajian Islam Nusantara, Leadership, Antropologi Kampus, Konseling Dan Motivasi, Try Out Mingguan di hari sabtu, sertaOutbond di hari Minggu. “Padatnya kegiatan di BPUN ini, bertujuan untuk membentuk karakter para peserta agar tidak kaget menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa nantinya. Namun tetap tidak lupa dengan niat awal, yaitu lulus PTN. Dengan segala keterbatasan yang ada, kami hanya berusaha membantu para pelajar ini berjuang menggapai mimpinya. “ ujar Project Officer BPUN Jabodetabek, Wachid Ervanto, Mahasiswa Semester 6 Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Awalnya ngerasa lelah belajar di BPUN, soalnya dari pagi sampai malam harus belajar terus, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa. Mau bagaimana lagi, ini ikhtiar untuk masa depan. Kegiatan non-akademiknya seru-seru banget, ditambah lagi kaka-kaka panitianya yang asik-asik.Gak nyesel deh ikut BPUN”. Komentar Khoirul Umam, peserta BPUN 2014 yang telah diterima menjadi mahasiswa Arsitektur IPB.

“BPUN tidak pernah menjanjikan lahan kesuksesan, tapi akan senantiasa menyediakan lahan perjuangan” menjadi sebuah jargon khas dari project officer kami, saudara Wachid Ervanto.

Reporter: Masmuhah dan Imron Rosyadi

(Panitia BPUN Jabodetabek, Sekretaris II Lembaga Visi Indonesia)